Bukan Tasybih atau Tamsil, Narasi Menteri Agama Soal Adzan Tanpa Rasionalitas

oleh
oleh
Opini oleh: Erhan, Alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

OPINI, Kaltaraaktual.com– Bermula dari Narasi seorang Menteri Agama Republik Indonesia Gus Yaqut Cholil Qoumas yang menuai banyak kritik dikalangan masyarakat dan penuh dengan kontroversi terhadap pernyataannya karena menyatakan pendapat dan analoginya soal volume atau frekuensi suara adzan umat Islam  yang dianggap mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar dengan narasi dan analogi adzan gonggongan seekor Anjing.

Jadi pembanding pemilihan diksi atau kalimat itulah yang membuat publik menjadi salah persepsi Ini adalah salah satu penghinaan terhadap agama tentu Ini akan berdampak kepada kemarahan umat muslim dengan adanya narasi multi tafsir tersebut.

Maka kemudian bahasa yang dikeluarkan Gus Yaqut Cholil mestinya lebih kepada bahasa normatif tidak derifatif dapat menimbulkan multi tafsir dimasyarakat yang bernuansa refresif jadinya.

kewenangan kementrian agama sebenarnya adalah bagaimana menjalankan perilaku beragama itu sesuai dengan Rana agama masing masing.

Ada baiknya menteri agama berhenti membuat narasi yang membuat keresahan dimasyarakat bahkan bisa berpotensi memecah bela umat Islam itu sendiri.

Islam sebagai suatu agama namun tidak akan pernah mengetahui aka sehat ketika iman akal rasonalitas ilmu pengetahuan tidak menjadi landasan utama dalam memahaminya begitulah gambaran yang dirasa tetap untuk sosok seorang Menteri Agama saat ini.

Sejatinya, masing-masing perorangan itu termasuk narasi dan analogi yang dilontarkan Menteri Agama soal adzan dan gonggongan anjing yang akhirnya dituntut untuk menampilkan diri sebagai makhluk moral yang akan bertanggungjawab atas amanah dan ucapan yang dilontarkan serta memikul sendiri segala amal perbuatannya tanpa kemungkinan meminta bantuan pada orang lain untuk memikul bebannya.

Tinggalkan Balasan