NUNUKAN, Kaltaraaktual.com– Pembatasan penggunaan sedotan plastik dan mempromosikan penggunaan sedotan ramah lingkungan serta menghentikan penggunaan styrofoam sebagai bahan kemasan juga menjadi poin komitmen bersama.
Hal ini senada dalam rangka implementasi Perbup Nomor 32 Tahun 2019 dengan melaksanakan kerjasama dan atau kemirtraan dengan pemerintah daerah maupun pihak terkait lainnya.
Tak luput, media massa juga diminta berkomitmen dalam penyebar luasan informasi kepada masyarakat.
Asisten II Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Nunukan H Asmar yang ditemui usai memimpin jalannya rapat menyebutkan sosialisasi tanpa pendampingan tidak akan maksimal. Karenanya, dalam implementasi Perbup Nomor 32 Tahun 2019, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nunukan harus memaksimalkan pendampingan dan pengawasan.
“Saya tidak yakin jika hanya sebatas sosialisasi. Sosialisasi tanpa pendampingan tidak akan ampuh, jadi DLH ini harus maksimalkan pendampingan dan pengawasan,” tegas H Asmar.
Sebelumnya, pada Selasa (08/09), Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Joned menyebutkan pernah mengimplementasikan Perbub Nomor 32 Tahun 2019 di pasar hingga munculnya Corona Virus Desease (Covid-19) pada 2020 silam.
“Kita pernah melakukan survey dan hasilnya itu rata-rata satu rumah tangga itu berbelanja 3,8 kali perminggu dengan minimal 2 lembar. Artinya, dalam setahun, masyarakat Nunukan ini menggunakan sekitar 22 juta lembar plastik,” jelas Joned.
Karenanya, dengan adanya komitmen yang terbangun, pihak DLH akan siap melakukan pendampingan kepada pelaku usaha maupun masyarakat di lapangan nantinya dalam pengimplementasian Perbup Nomor 32 Tahun 2019 guna mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Ia juga menyebutkan pihak DLH juga menargetkan telah mampu memproduksi botol pelampung yang dapat digunakan dalam budidaya rumput laut serta residunya bisa digunakan untuk pembuatan pavin blok.
“Namun, saat ini masih ada beberapa jenis plastik yang masih belum kami temukan solusinya. Di antaranya itu jenis plastik PET dan kantong plastik,” beber Joned.
Karenanya, Joned berharap momentum ini bisa dimanfaatkan untuk bergerak kembali mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan beralih ke produk-produk biodegradable (mudah terurai secara alami). (Skr)


