KPU Kaltara Selesaikan Coklit, Telah Terdata Seratus Persen

oleh -16 Dilihat
oleh

TANJUNG SELOR, Kaltaraaktual.com- Proses pencocokan dan penelitian (Coklit) yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalimantan Utara (Kaltara), dalam hal ini pantarlih sudah selesai melakukan pendaftaran jumlah data pemilih untuk kebutuhan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2024.

“Jadi secara keseluruhan, per tanggal 21 Juli kemarin, itu semua se-Kaltara sudah selesai 100 persen. Artinya apa? Proses teman-teman Pantarlih melakukan coklit dengan mendatangi semua rumah-rumah warga di Kaltara yang tercatat di dalam daftar pemilih sudah dilakukan,” ujar Nasruddin, Komisioner KPU Kaltara Divisi Perencanaan, Data dan Informasi, Senin, (22//07/24).

Sedang untuk masyarakat yang mungkin selama ini belum sempat dilakukan coklat untuk memberikan masukan dan tanggapan pada masa tahapan selanjutnya sebelum masuk ke tahapan Daftar Pemilih Sementara (DPS).

“Misalnya masih ada pemilih-pemilih yang perlu dikonfirmasi untuk kemudian dimasukkan daftar pemilih itu nanti ada tahapannya lagi setelah kita pengumuman,” sebut Nasruddin.

Nasruddin menjelaskan, tahapan Coklit kurang lebih memakan waktu sebulan lamanya, yakni dimulai pada 24 Juni dan berakhir resmi pada 24 Juli 2024. Setelah  Coklit jumlah pemilih masing-masing, yaitu Kota Tarakan: 173.252 orang, Nunukan: 153.940, Kabupaten Bulungan: 115.677 pemilih, Kabupaten Malinau: 57.552 pemilih dan Tana Tidung sebanyak 19.419 pemilih, dengan total jumlah data pemilih yang terdata ada sebanyak 522.135 resmi se-Kaltara namun daftar pemilih setelah Coklit menjadi 519.840 pemilih.

“Dari lima kabupaten-Kota secara serentak melakukan Coklit se-Kaltara, ada sebanyak 522.135 orang yang di Coklit data dan setelah itu ada 519.840,” jelas Nasruddin.

Disinggung soal tantangan selama melakukan coklit daftar pemilih, Nasruddin menyampaikan ada kendala geografis wilayah Kaltara yang cukup memakan waktu sehingga dibutuhkan tenaga ekstra untuk menyelesaikan proses tersebut.

“Sejauh ini tidak ada kendala, cuma kan kendalanya itu gini, karena kan kita di wilayah Kaltara ini ada akses geografis yang kemudian tidak serta-merta hanya cukup naik motor sampai di situ, atau hanya jalan kaki di situ. Ada beberapa wilayah yang memang kita harus berjuang ya, berjuang dalam artian harus menggunakan transportasi sungai. Karena kan prinsip data itu kan idealnya harus datang mereka satu-satu, harus ketemu orangnya. Nah untuk memastikan itu orangnya, kita harus datang ke rumahnya,” imbuhnya. (**)

 

Tinggalkan Balasan