TANJUNG SELOR, KaltaraAktual.com- Menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun 2026, harga cabai di Pasar Induk Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara) melonjak tajam hingga menembus Rp250 ribu per kilogram. Kenaikan ini langsung dikeluhkan warga karena cabai merupakan bahan pokok penting dalam kebutuhan dapur, terutama saat Lebaran.
Lonjakan harga ini disebut sudah terjadi sejak dari rantai distribusi awal. Salah satu pedagang mengaku harga yang ia terima sudah tinggi sebelum sampai ke tangannya.
“Saya sudah beli dari orang yang ambil dari petani. Jadi saya beli lagi dari dia,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat, (20/03/26).
Saat ditanya harga dari tingkat petani, ia tidak mengetahui pasti. Namun, harga saat masuk pasar sudah sangat tinggi.
“Tidak tahu dari petani berapa. Dari teman saya yang sudah keluar di pasar itu sudah Rp200 ribu,” jelasnya.
Dengan harga modal yang sudah menyentuh Rp200 ribu, pedagang terpaksa menaikkan harga jual hingga Rp250 ribu per kilogram.
“Makanya dijual Rp250 ribu,” katanya.
Menurutnya, cabai juga termasuk komoditas yang mudah menyusut sehingga berisiko merugi jika tidak cepat terjual. “Karena lombok ini mudah susut, mas,” tambahnya.
Kenaikan harga cabai ini semakin terasa berat karena terjadi menjelang Lebaran, saat kebutuhan bahan makanan biasanya meningkat drastis. Kondisi ini membuat masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan masakan khas hari raya.
Jika tren ini terus berlanjut hingga hari H, bukan tidak mungkin cabai akan benar-benar menjadi “barang mewah” di meja makan saat Idul Fitri tahun ini. (**)








