TANJUNG SELOR, Kaltaraaktual.com– Keputusan mundurnya Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Drs. H. Zainal Arifin Paliwang, SH, M.Hum dari bursa pencalonan Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kaltara pada Musyawarah II Organisasi Paguyuban baru-baru ini mendapat tanggapan yang positif.
Sebelumnya pemilihan Ketua digelar dalam Musyawarah wilayah KKSS ke II di Tanjung Selor, Sabtu (21/08/2021), memunculkan banyak dinamika politik.
Mantan Ketua KNPI Kaltara Alwan Saputra, S.Pi, M.M, mengatakan Gubernur Kaltara menjadi satu-satunya nama kandidat yang kuat untuk memimpin KKSS selama 5 tahun namun memilih mundur.
Untuk itu Alwan Saputra mengapresiasi langkah Gubernur tersebut. Menurutnya keputusan orang nomor satu di Kaltara itu sudah tepat.
“Saya sangat menghargai langkah Pak Zainal yang sebelumnya mundur dari bursa pencalonan KKSS Kaltara, walaupun peluang beliau sangat terbuka dan tidak ada larangan untuk menjadi Ketua. Menurut kami, memang seharusnya beliau sudah menjadi milik semua kelompok, suku, agama dari masyarakat Kaltara. Sikap beliau ini menunjukan sikap nasionalisme sejati bukan hanya dalan ucapan dan retorika. Dan fokus melaksanakan tugas sebagai kepala daerah,” kata bang Alwan sapaan akrabnya, yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Nahdlatul Ulama Kaltara (2015-2020)
“Saya lihat beliau (pak Zainal) konsentrasinya membangun Kaltara, tidak mencampur adukkan kepentingan primodial kedaerahan,” tambahnya.
Alwan menuturkan hal tersebut terbukti dari sikap Gubernur Kaltara yang selama ini terbuka dan berhubungan baik kepada semua kalangan.
“Dulu itu beliau juga pernah dicalonkan jadi Ketua Himpunan Masyarakat Sinjai (HIMAS) Kaltara, tapi pak Gubernur menolak, kemudian komunikasinya di lintas partai politik juga sangat intes dan baik, kita ketahui beliau salah Pembina salah satu Parpol, tapi baru-baru ini beliau bersedia hadir pada peresmian Pembangunan Sekretariat Parpol lain” tutur dia.
Alwan yang pada saat Pemilihan Gubernur menjadi Ketua Relawan ZIYAP (ZAINAL – YANSEN) Kabupaten Bulungan ini menegaskan, elite politik daerah sebaiknya meneladani sikap beliau, harus sadar posisi dengan tidak membawa kepentingan primodial dan harus komitmen membawa semangat nasionalisme.
“Provinsi Kaltara merupakan miniatur Indonesia, berbagai suku, kelompok, agama ada di sini perlu untuk kita bersikap secara universal Keindonesiaan” tegasnya. (KA)


