OPINI, kaltaraaktual.com–
Dampak dari broken home sangat besar terhadap anak seperti kurangnya perhatian dan kurangnya kasih sayang dari orang tua sehingga membuat anak mencari perhatian diluar rumah salah satunya dengan cara membuat kericuhan disekolah agar mendapat perhatian dari sekelilingnya. Tujuan dari karya tulis ilmiah ini adalah mengedukasi masyarakat mengenai dampak broken home terhadap pergaulan anak remaja sehingga orang tua lebih dapat mencegah terjadinya broken home dengan cara sering meluangkan, beribadah bersama, menciptakan suasana yang harmonis serta selalu terbuka terhadap keluarga.
Dampak Faktor Terjadinya Broken Home Broken home adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua sehingga membuat mental anak menjadi depresi , brutal dan susah diatur. Broken home sangat berpengaruh besar pada mental remaja hal inilah yang mengakibatkan remaja tidak mempunyai minat untuk berprestasi. Broken home juga bisa merusak jiwa anak sehingga dalam sekolah mereka bersikap seenaknya saja, tidak disiplin di dalam kelas mereka selalu berbuat kerusuhan, hal ini dilakukan karena mereka cuma ingin cari simpati pada teman-teman mereka bahkan pada guru-guru mereka. Untuk menanggapi hal semacam ini kita perlu memberikan perhatian yang lebih agar mereka sadar dan mau berprestasi.
Istilah “Broken Home” biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan akibat orang tua tidak lagi peduli dengan situasi dan keadaan keluarga di rumah. Orang tua tidak lagi perhatian terhadap anak-anaknya, baik masalah di rumah, sekolah, sampai pada perkembangan pergaulan anak-anaknya di masyarakat.
Orang tua adalah panutan dan teladan bagi perkembangan remaja terutama pada perkembangan psikis dan emosi, orang tua adalah pembentukan karakter yang terdekat. Jika remaja dihadapkan pada kondisi “Broken Home” dimana orang tua mereka tidak lagi menjadi panutan bagi dirinya maka akan berdampak besar pada perkembangan dirinya.
Dampak psikis yang dialami oleh remaja yang mengalami broken home, remaja menjadi lebih pendiam, pemalu, bahkan despresi berkepanjangan. Faktor lingkungan tempat remaja bergaul adalah sarana lain jika orang tua sudah sibuk dengan urusannya sendiri. Jika remaja berada di lingkungan pergaulan yang negatif, karena keadaannya labil maka tidak menutup kemungkinan remaja akan masuk ke dalam lingkungan pergaulan yang tidak baik.
Namun, broken home dapat juga diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, serta sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berakhir pada perceraian yang menimbulkan dampak yang sangat besar terutama bagi anak-anak.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan broken home adalah:
1. Terjadinya perceraian diantara kedua orang tua yang menyebabkan dampak psikologi terhadap anak yang biasanya mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, namun kini setelah kedua orang tuanya berpisah membuat anak kesepian dengan keadaan ini.
2. Sikap yang tidak dewasa orang tua terhadap masalah yang sedang dihadapi mereka sehingga anak selalu menjadi korban dari pertengkaran kedua orang tuanya.
3. Adanya masalah ekonomi yang kurang memenuhi sehingga menyebabkan pertengkaran didalam rumah tangga.
Dampak Broken Home Terhadap Anak
Kurangnya Kasih Sayang
Saat kondisi suami istri tidak lagi dalam hubungan yang harmonis, maka tentu saja akan memunculkan rasa egois dalam diri masing-masing yang lebih diutamakan. Jika tidak segera diatasi maka tentu saja anak menjadi korban yang paling utama. Anak akan mengalami kurang kasih sayang karena perhatian orang tua yang berkurang satu sama lainnya.
Mudahnya mendapat perngaruh buruk dari lingkungan ketika suasana rumah dan keluarga sudah menjadi tidak nyaman, maka anak akan berusaha untuk mencari tempat lain yang dijadikan sebagai tempat saling berbagi dan menghibur dirinya. Saat kondisi seperti ini, maka lingkungan pertemanannya yang akan menjadi tujuan sebagai pengganti keluarga. Jika lingkungan pertemanannya kurang baik, maka tentu saja anak akan sangat mudah terpengaruh untuk mengikuti perilaku temen yang menyimpang sebagai pelarian untuk mendapatkan kebahagiaan.
Kurangnya spiritual penggenalan agama tentu saja harus dilakukan sejak anak-anak masih berusia dini. Namun tentu saja hal ini akan sangat jarang terjadi pada kondisi keluarga yang broken home. Orang tua tidak dapat menjalankan tugas yang sebagaimana harusnya. Sehingga anak-anak tidak dibekali atau dilengkapi dengan pondasi agama yang kuat sehingga menyebabkan tidak adanya pedoman hidup yang dapat mengarahkannya.
Membenci Kedua Orang Tuanya
Karena kondisi mental yang masih sangat labil, dapat membuat anak-anak yang berada di dalam lingkungan broken home dapat membenci kedua orang tuanya. Mereka belum memahami tentang hal yang terjadi di dalam keluarga, bahkan belum dapat menerima kondisi yang sebenarnya terjadi. Sehingga mereka akan menganggap jika semua hal yang terjadi merupakan kesalahan dari salah satu ataupun kedua orang tuanya.
Permasalahan dengan moralnya
Saat anak dalam masa pertumbuhan, anak yang selalu melihat orang tuanya bertengkar dan melakukan perilaku yang kasar didepan anaknya seiring dengan berjalannya waktu, anak juga akan terbiasa untuk melakukan tindakan tindakan seperti yang dilihat pada orang tuanya seperti bertengkar, berperilaku kasar, emosional, dan bertindak tidak terpuji lainnya. Sikap-sikap ini lah yang nantinya akan dipratikkan dalam lingkungan pertemanannya.
Tidak berprestasi akibat lainnya yang sering terjadi pada anak yang mengalami broken home adalah pada hal akademiknya di lingkungan pendidikan. Permasalahan di dalam rumah akan membuat anak menjadi malas belajar. Apalagi jika tidak adanya support dari kedua orang tua. Tentu saja menyebabkan anak tidak memiliki kemauan untuk berprestasi. Tentu saja hal ini akan berbeda dengan anak-anak yang berasal dari keluarga harmonis yang lebih memiliki motivasi dalam belajar karena adanya support dari keluarga.
Memandang jika hidup adalah sia-sia beberapa anak yang berada dalam kasus broken home seringkali merasakan kesedihan serta kehancuran hati yang sangat dalam, sehingga mengakibatkan pendapat mereka terhadap hidup berubah ke dalam konteks yang negatif. Anak akan merasa jika hidupnya tidak berguna dan mengecewakan. Bahkan menurut mereka tidak ada orang satupun yang dapat dijadikan teladan di dalam hidupnya.
Mencegah atau menghindari terjadinya Broken Home
banyak cara agar mencegah terjadinya broken home pada sebuah rumah tangga. Yang terpenting ialah saling mendengarkan satu sama lain, saling berkomunikasi antar anggota keluarga, saling membantu dalam kesulitan dan lain sebagainya. Kesanggupan mental dan fisik sebelum memulai pernikahan juga mendukung agar supaya pasangan tidak kaget dalam berumah tangga. Berikut adalah beberapa cara supaya mencegah broken home terjadi :
Selalu luangkan waktu untuk mendengarkan cerita atau keluh kesah anak anak perlu arahan dan petunjuk dari orang tuanya banyak hal yang terjadi bisa dalam pertemanan, sekolah, maupun kehidupannya dirumah. Luangkan waktu untuk sekedar mendengarkan anak mencurahkan isi hatinya dan berikan respon yang baik misalnya, tentang teman-temannya disekolah atau tentang kegiatan-kegiatan yang diluar rumah. Jadikan anak sebagai teman agar anak mudah bercerita
Ciptakan suasana harmonis didalam rumah tangga suasana harmonis bisa diwujudkan jika semua anggota keluarga tidak melupakan komunikasi yang baik. Di waktu sekarang komunikasi banyak mendapat kemudahan, mulai dari handphone, email, internet. Komunikasi yang buruk bisa menimbulkan broken home.
3. Beribadah bersama
Cara ini merupakan cara yang bisa digunaka didalam rumah, bersama-sama mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
4. Selalu terbuka dan menjaga tidak keluar apabila ada masalah dalam rumah tangga bisa dibicarakan dengan baik-baik dan mecari jalan keluar bersama pasangan. Jangan menilai buruk negatif pasangan kita, berikanlah solusi dan selesaikan bersama masalah yang ada sehingga permasalahan tidak semakin besar.
Peran keluarga terhadap pergaulan anak remaja kenakalan remaja bukanlah menjadi suatu masalah yang baru muncul, kenakalan remaja merupakan suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan dan hukum di dalam kehidupan. Perilaku ini akan merugikan diri sendiri dan orang-orang disekitarnya. Bersamaan dengan perkembangan teknologi pada zaman sekarang ini, banyak masalah tentang anak dikalangan remaja mulai merasakan namanya pubertas dan merasakan yang namanya penasaran akan hal-hal yang tidak seharusnya di lakukan seperti merokok, narkoba, perjudian online, hingga sex bebas.
Kenakalan remaja ini bisa dilakukan dalam aksi aksi kelompok. Kalangan remaja yang melakukan itu pada umumnya kurang mengendalikan diri dan suka dengan seenaknya menggunakan peraturan sendiri tanpa memikirkan orang lain. Munculnya perilaku tersebut dipicu oleh faktor pergaulan anak remaja yang bergaul dengan teman tanpa melihat latar belakangnya karena kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya atau keluarganya.
Oleh sebab itu maka peran orang tualah yang sangat di butuhkan dalam pengawasan anak tersebut maka, perlu diartikan keluarga sebagai tempat seseorag yang tumbuh dan berkembang menjadi individu yang mempunyai kepribadian dan berkarakter. Kehidupan keluarga dan cara orangtua membesarkan anak dalam keluarga akan berakibat langsung pada perkembangan anak. Peran orang tua sangatlah penting dalam segalanya untuk menjaga pergaulan dimasa ini. Berikut beberapa peran orang tua dalam menjaga anak dari pergaulan bebas yaitu :
1.Pendidikan Agama yang cukup
Pendidikan agama sangatlah dibutuhkan anak untuk menjaga anak dalam hal moral agar anak tidak terjerumus didalam pergaulan bebas. Salah satu caranya adalah menanamkan bahwa segala sesuatu yang dia lakukan akan mendapatkan hukaman dari Tuhan. Orang tua juga bisa memberikan penjelasan kepada anak dengan tegas bahwa agama membolehkan kita bergaul namun ada batasannya. Selain itu, pastinya orang tua mengajarkan anak untuk selalu beribadah dan memohon perlindungan kepada Tuhan agar dihindari dari pergaulan yang buruk.
2.Pemberian rasa kasih sayang yang cukup, pendidikan yang utama adalah dari keluarga apalagi dari orang tua. Banyak cara yang bisa dilakukan orang tua untuk memberikan kasih sayang, salah satunya perhatian saat anak meembutuhkannya dalam kondisi apapun.
3.Penanaman edukasi tentang bahaya pergaulan bebas, pergaulan bebas adalah pergaulan yang dilakukan tanpa batasan sehingga mengakibatkan anak bergaul tanpa aturan yang mana yang baik dan buruk. Dampak dari pergaulan bebas ini sangat banyak, seperti: merokok, melawan orang tua serta tidak mau menerima nasihat dari orang, kecanduan pornografi, sex bebas bahkan narkoba. Maka, peran orang tualah menanamkan pengetahuan kepada anak tentang bahaya pergaulan bebas ini agar anak tidak terjerumus didalamnya pergaulan yang buruk
4.Memberikan pengawasan untuk kegiatan anak pengawasan berguna sebagai perlindungan terhadap anak, tapi pengawasan disini bukan berarti membatasi lebih melainkan memberikan perhatian kepada anak.
5 .Menanamkan percaya diri
orang tua perlu memberitahukan kepada anak bahwa mereka mempunyai suatu kemampuan agar anak bisa lebih percaya diri kepada dirinya sendiri.
6 .Peran sebagai teman, dalam masa remaja, orang tua harus bisa lebih sabar serta harus mau mengerti tentang perubahan pada anaknya. Orangtua harus bisa menjadi teman bagi anaknya supaya anaknya lebih mau terbuka kepada orang tua dan tidak kehilangan perhatian dari kedua orang tuanya.
Kesimpulan
Dari semua pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa broken home yang sedang terjadi dikalangan masyarakat besar yang sangat merugikan faktor psikologi anak yang menjadi korban hancurnya rumah tangga orang tuanya. Banyak orang tua yang merasa dirinya paling berjasa karena telah melahirkan dan membesarkan anaknya, tidak enggan menghakimi berbagai persoalan dan permasalahan yang dihadapi atau dilakukan anak. Munculah istilah Broken Home, dimana anak mencari tempat pelarian yang mereka tidak didapatkan dari orang tuanya.
DAFTAR PUSTAKA
Ali Muhammad, Muhammad Asrori (2006) Psikologi Remaja; Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Atriel (2008) Broken Home Cunha, M.J (2007) Modelling Peer Group Dieting Behaviour. Journal World Academy of Science, Engineering and Technology. Vol.30.2007. Portugal: Institute of Technical University of Lisbon.
Papalia, Diane E., Sally Wendkos Olds, Ruth Duskin Feldmen (2009) Human Development: Perkembangan Manusia. Jakarta: Salemba Humanika.
Gerungan, (2009) Psikologi Sosial. Bandung: PT Refika Aditama Irawati Istadi (2009) Mendidik


