OPINI, Kaltaraaktual.com– “Nasionalisme kita haruslah nasionalisme yang tidak mencari gebyarnya atau kilaunya negeri keluar saja, tetapi haruslah mencari selamatnya manusia.. Nasionalisme kita haruslah lahir daripada ‘menselijkheid’. Nasionalismeku adalah nasionalisme kemanusiaan, begitulah Gandhi berkata”, begitu kiranya yang disampaikan oleh Sukarno.
Nasionalisme sebagai alat pemersatu bangsa yang saya pahami memiliki dua wajah. Pertama, apabila nasionalisme digunakan oleh bangsa terjajah maka nasionalisme akan menunjukan wajah revolusionernya untuk melepaskan diri dan melawan penjajah. Kedua, apabila ia digunakan oleh bangsa penjajah maka nasionalisme akan menunjukan wajah chauvinis-narsistik; di mana suatu bangsa merasa lebih unggul dari bangsa lain dan di sanalah salah satu akar di mana kolonialisme hadir.
Jika menelisik sejarah gerakan pemuda dalam memerdekakan Indonesia yang memiliki keanekaragaman suku dan budaya, pemuda Indonesia memiliki komitmen untuk menyatukan segala perbedaan tersebut sebagai suatu bangsa dengan tujuan agar Indonesia merdeka. Pemuda menyadari bahwa segala bentuk perjuangan yang dilakukan secara terpisah adalah sia-sia, karena hanya ada satu musuh tunggal yaitu kaum penjajah. Dengan itu terbentuklah kesadaran nasional para pemuda Indonesia masa itu yang dimanifestasikan melalui Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Menuju 78 Tahun Merdeka, 95 Tahun Sumpah Pemuda, Lalu Apa?
Frantz Fanon seorang intelektual Prancis menyatakan pentingnya transformasi dari kesadaran nasional menuju kesadaran sosial dan kesadaran politik. Menurut Fanon, jika nasionalisme tidak dipahami secara holistik oleh suatu bangsa dan jika tidak segera ditransformasikan menjadi kesadaran sosial dan politik, serta humanisme, maka sebuah perjuangan kemerdekaan akan menemui jalan buntu.
Sejatinya, perjuangan kita bukan hanya perjuangan membebaskan manusia melawan penjajah, melainkan perjuangan melawan segala bentuk penindasan terhadap manusia. Dengan melihat kondisi saat ini di mana masih banyak terjadi ketimpangan ekonomi, sosial, dan politik, menurut saya, penindasan terhadap manusia masih terus berlangsung meskipun Indonesia telah mencapai kemerdekaannya. Peramampasan tanah ulayat masyarakat adat yang dilakukan oleh pemerintah demi kepentingan dan kesejahteraan beberapa golongan pemodal, serta akses pendidikan yang timpang adalah dua contoh nyata yang harus kita akui terjadi di negara kita.
Kemerdekaan nasional yang telah kita nikmati selama 76 tahun pun seolah menemui jalan buntu. Sebabnya apa? Karena tujuan-tujuan dari Indonesia merdeka belum sungguh-sungguh dapat kita nikmati secara merata. Untuk itu pemuda hari ini melalui kesadaran sosial dan politiknya perlu mengambil semangat Sumpah Pemuda 1928 silam demi menghadirkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Seharusnya, setelah Indonesia merdeka perjuangan pemuda Indonesia itu tidak boleh berhenti begitu saja. Pemuda harus selalu “haus”, karena menurut Sukarno kemerdekaan itu sejatinya hanya sebuah “jembatan emas” untuk mencapai tujuan negara Indonesia merdeka. Kita harus selalu ingat bahwa nasionalisme yang membawa Indonesia menjadi negara merdeka sebagaimana yang dimaksud oleh Bung Karno adalah nasionalisme yang menyelamatkan seluruh umat manusia, bukan hanya “segolongan manusia” tertentu.
Inilah mengapa kesadaran sosial menjadi penting untuk dibangun. Kesadaran sosial yang dimaksud adalah ketika pemuda sadar akan realitas kondisi ekonomi, politik, dan sosialnya yang jauh dari apa yang disebut ideal. Jika kesadaran sosial terbentuk, maka bangsa akan tergerak untuk terus berusaha menuju tujuan Indonesia merdeka, yaitu masyarakat adil dan makmur.
Kemerdekaan sejati bukan hanya tercermin dalam bentuk teriakan-teriakan “NKRI harga mati!.” Jangan sampai kita terlena dan menjadikan merdeka hanya sebagai suatu simbol dan melupakan makna kata “merdeka” sesungguhnya. Kita harus mampu melihat dan menyadari bahwa ada bentuk pejajahan baru yang saat ini sedang menggorogoti kemerdekaan kita.
Terlalu sering saya melihat kita meluhurkan kalimat “NKRI harga mati!”, dalam setiap kesempatan yang justru rentan membawa kita kepada bahaya nasionalisme chauvinis-narsistik. Hal ini malah bertentangan dengan semangat nasionalistik-humanis yang digaungkan oleh Sukarno. Sebab seperti yang Sukarno katakan bangsa Indonesia tidak hendak menunjukan kilaunya negeri, bahkan menurut Bung Karno “…bangsa yang besar diartikan dalam arti yang seluas-luasnya, besar politik, besar ekonomi, besar ketahanan, besar kebudayaan, pendek kata satu bangsa yang benar-benar memenuhi segenap amanat-amanat dari penderitaan-penderitaan rakyatnya yang haus, suatu bangsa yang bernegara kesatuan, kokoh-kuat, satu bangsa yang memiliki masyarakat adil dan makmur…”
Dengan demikian, saya mengajak pemuda masa kini untuk mengambil semangat Sumpah Pemuda 1928 bahwa kita sebagai pemuda akan terus berjuang hingga tujuan Indonesia merdeka yang saya simpulkan menuju masyarakat adil dan makmur dapat kita nikmati.
Anna Bela Morizcha, S.H., M.H. (Bacaleg DPR RI Partai Nasdem Dapil Kalimantan Utara)
-Tulisan Opini sebelumnya pernah dimuat di medium.com-


