Di Balik Shaf Terakhir, Sikap Rendah Hati Gubernur Kaltara Tuai Pujian

oleh
oleh

TANJUNG SELOR, KaltaraAktual.com- Sebuah momen sederhana namun sarat makna terekam dalam agenda buka puasa bersama (bukber) yang diinisiasi Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang, bersama insan pers se-Kaltara di Cendana Resto, Tanjung Selor, Rabu (18/03/26).

Kegiatan yang bertujuan mempererat silaturahmi di bulan suci Ramadan itu berlangsung hangat dan penuh keakraban. Selain menjadi ajang kebersamaan, pertemuan tersebut juga diharapkan mampu memperkuat sinergi komunikasi dan kemitraan antara Pemerintah Provinsi Kaltara dengan media.

Dalam kesempatan itu, Gubernur didampingi Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (DKISP) Kaltara serta dihadiri puluhan jurnalis dari berbagai perusahaan media.

Namun di balik suasana santai tersebut, muncul satu momen yang tak biasa dan mencuri perhatian. Saat waktu salat berjamaah tiba usai bukber, Gubernur justru terlihat berada di shaf paling belakang bahkan sendirian. Momen itu terekam kamera salah satu wartawan dan kemudian menjadi perbincangan hangat.

Dalam bincang santai, seorang wartawan sempat melontarkan pertanyaan bernada guyon terkait hal tersebut. Menanggapi itu, Gubernur menjelaskan bahwa dirinya terlambat bergabung karena masih menyelesaikan makan dan berwudhu saat salat sudah dimulai.

“Di mata Tuhan kita semua sama, tidak ada urusan dengan pangkat dan jabatan. Tidak peduli siapa kamu,” ujar Gubernur.

Ia menegaskan bahwa dalam ibadah, tidak ada keistimewaan berdasarkan jabatan atau status sosial. Semua umat memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan.

“Siapa pun anda, setinggi apa pun jabatanmu. Jangankan Gubernur, cucu nabi sekalipun, kalau datang paling lambat saat salat sudah dimulai, maka tetap di belakang. Apalagi saya yang cuma Gubernur,” tuturnya.

Lebih jauh, ia juga menekankan pentingnya niat dan kekhusyukan dalam beribadah, bukan sekadar posisi di shaf terdepan.

“Kita shalat itu untuk mencari rahmat Allah, bukan berlomba di shaf depan. Mau di depan atau belakang, nilainya sama. Yang penting niat dan khusyuk,” tambahnya.

Momen ini pun dinilai sebagai gambaran kesederhanaan. (***)