Penulusuran Sejarah Suku Tidung di Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan

oleh
oleh

NUNUKAN- Pulau Sebatik menjadi satu di antara kecamatan yang berada di Kalimantan Utara Khususnya terletak di Kabupaten Nunukan memiliki kekayaan sumber daya alam yang cukup melimpah.

Tapi, banyak di antara kita yang belum tahu persis bagaimana sejarah pertama kali munculnya pemukiman masyarakat suku tidung di Pulau Sebatik.

Abdullah Gani Kasim atau biasa dipanggil Ujang Abdullah, merupakan Ketua lembaga adat tidung Se-Pulau Sebatik menceritakan sejarah Suku Tidung. Bahasa Ujang Sendiri adalah bahasa yang digunakan untuk menghormati orang yang lebih tua.

“Suku tidung, merupakan salah satu suku asli Kalimantan Utara yang membuka lahan di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan pada awal mulanya tahun 1920 bersama dengan suku bajau,” ujar Ujang Abdullah

Suku yang dimulai dengan kelompok kecil itu menjadi semakin bertambah secara perlahan, Tuntutan dan perkembangan semakin maju.

Persebaran dibagi menjadi dua di Pulau Sebatik di tahun 1920 yakni suku tidung dan suku bajau. Lantas pada waktu itu yang membuka lahan pertama kali dari suku tidung di Sebatik adalah Ujang Mide

“Ia mengatur tata krama adat tidung dalam pergaulan antarwilayahnya. Ia juga mempertahankan suku tidung sebagai suku yang menguasai suatu wilayah tertentu. Ia arif dan bijaksana. Sifat itu membuatnya menjadi pemimpin yang disegani dan dihormati,” kata Ujang Abdullah.

Maka, mereka melakukan pengembaraan hingga ke beberapa wilayah yang ada di Pulau Sebatik.

Pertumbuhan masyarakat suku tidung di Pulau Sebatik tersebar di beberapa titik, yakni dari sungai batangan, Desa, Setabu, Mantikas, Binalawan, Liang Bunyu dan Desa Bambangan.

Ujang Abdullah menambahkan jangan melupakan sejarah ada istiadat suku tidung.

“Kita tidak boleh menghilangkan adat istiadat. jadi baik itu suku bugis, banjar, timur dan lain-lain itu semua sodara kita, karena kerukunan antara suku harus kita jaga dan dimata Tuhan Kita semua sama,” bebernya

Ada filosofi yang harus dipegang erat oleh suku tidung “Belimpung taka tagas insuai taka tapuu impong delunas insuaii” artinya berkumpul kita kuat dan bercerai kita rapuh. (MDF)