OPINI, Kaltaraaktual.com– Perjalanan terus menagih dalam kepalaku, seperti utang yang harus segera dibayar petualangan. Entah sudah menjadi pilihan hidup atau hanya karena terbiasa melanglang-buana.
Bergeraklah, bisikan-bisikan itu terus menggema di kepala, mengamuk dan seolah senantiasa menggerakkan anatomi tubuh ini ke tempat lain, jauh di sana.
Olehnya itu, kali ini saya memutuskan masuk dalam satu tim bersama beberapa teman ke Kalimantan Utara. Menjajaki bumi dengan sensasi baru tentunya.
Karena masih baru, saya belum bisa berbagi pengalaman di sini. Melainkan hanya ingin menyampaikan beberapa hal seperti kebiasaan saya mengelabui publik kalau saya seorang pengangguran.
Ketemu dengan tempat dan orang-orang baru selalu menambah pengetahuan. Mendengar kisah dari mereka yang merantau sejak tahun 70an, tentang anak-anak muda yang kehilangan identitas sebab tak lagi mengenali tempat asalnya.
Kembali saya diingatkan oleh keluarga, oleh beban ekonomi sekitar, serta tanggung jawab moral sebagai pemuda. Sebagaimana selalu saya katakan, sebagai pemuda tentu menjadi penting untuk produktif tanpa harus menggenggam predikat agen of change.
Sementara menurut saya, pemuda yang baik adalah pemuda yang bangga atas identitas budaya dan lingkungannya. Pemuda yang membangun kampungnya, tak peduli ia berpendidikan tinggi atau tidak.
Hal itu menjadi evaluasi atas diri saya sendiri yang kebanyakan berpetualang dari suatu tempat yang membosankan ke tempat lain yang kadang bermakna sama.
Setiap perjalanan yang saya tempuh melahirkan karya, tetapi beberapa buku tak bisa menggantikan tagihan listrik tetangga, karangan belum bisa mengisi perut saudara yang seharian belum makan.
Itulah sehingga saya kadang berpikir untuk menulis lebih banyak kisah cinta anak remaja yang rela terjebak macet demi memberikan hadiah pada kekasihnya.
Tetapi saya juga berpegang teguh pada W.S Rendra yang mengatakan, “Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan? Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan?”.
Sehingga beberapa karya saya tidak pernah lepas dari isu sosial. Saya merasa tertampar setiap kali mengingat kalimat Rendra.
Kembali pada pembasan di awal, bahwa petualangan selalu memberikan sensasi yang berbeda. Walau belum banyak yang bisa saya kisahkan, paling tidak saya menulis.
Di mana sebelumnya saya menulis beberapa buku yang bersumber dari hasil perjalanan di beberapa tempat. Tetapi kali ini saya akan lebih fokus pada mereka yang merantau dan rela terjebak lama demi sesuap nasi.
Saya membayangkan bagaimana sulitnya hidup mereka, ketika para pemuda terpisah sehari saja dengan kekasihnya merengek-rengek manja penuh kerinduan. Lalu bagaimana dengan mereka yang bahkan mengenal keluarga saja sisa nama.
Mereka bertaruh nyawa demi perut, bertahan menyambung nasi demi hidup. Lalu apa arti hidup mereka?
Tak perlu jadi artis, mereka tidak meminta dikenal dan disantuni. Mereka hanya butuh lahan untuk bekerja dan bisa makan. Mereka tidak berharap masuk politik, tidak terobsesi jadi penguasa, sesuap nasi sudah bisa menghadirkan senyum syukur di wajahnya.
Selama perjalanan, saya banyak ketemu dengan orang-orang seperti itu. Mereka senang bisa berbagi cerita denganku sebab merasa senasib.
Mereka mengisyaratkan bahwa dunia ini luas, tetapi hidup selalu hampa tanpa rasa syukur.
Oleh: Burhan SJ
