Petani Sawit Asal Sebatik Diduga Tanda Tangani Blanko Kosong Pencairan Dana PSR

oleh
oleh
Permasalahan pencairan dana program bantuan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang anggarannya bersumber dari BPDPKS untuk para petani di Pulau Sebatik belum selesai.

NUNUKAN, Kaltaraaktual.com– Permasalahan pencairan dana program bantuan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang anggarannya bersumber dari BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) belum menemukan penyelesaian yang pasti. Sehingga para petani Sawit di Pulau Sebatik Nunukan Kalimantan Utara (Kaltara) masih mempertanyakannya.

Termasuk dari salah satu petani Samsatir, petani kelapa sawit  yang mempermasalahkan (PSR) menyatakan uang yang cair ke rekening petani sebesar Rp 25 juta tidak bisa dicairkan.

Samsatir yang kebingungan karena dananya tak kunjung cair sempat mendatangi pihak Bank dan menanyakan perihal dana tersebut hingga mendapatkan jawaban yang bertele-tele dari Bank tersebut.

“Dana petani ini bisa cair apabila Latif yang datang mencairkannya,” jawab pihan Bank, ujar Samsatir Sabtu, (17/07).

Menurut keterangan Samsatir, rekening petani tersebut diblokir oleh Latif selaku Ketua Gapoktan Mamminasae diduga bekerja sama dengan perbankan.

“Si Latif mengakui kalau memang dia minta ke bank supaya bisa dicairkan kecuali melalui dirinya,” ungkap Samsatir.

Samsatir menceritakan sesudah lebaran Idul Fitri 1442 H pernah dibawakan blangko pencairan bank yang kosong oleh Latif untuk ditandatanganinya.

“Waktu habis lebaran puasa baru-baru ini Latif pernah bawakan kertas warna merah muda mirip kertas pencairan di bank. Latif minta ditandatangan jadi kami tanda tangan saja,” tutur Samsatir.

Keganjalan lainnya, Samsatir bersama ratusan petani kelapa sawit yang tergabung dalam Gapoktan Mamminasae milik Latif, buku rekening miliknya tidak pernah diberikan lagi.

“Setelah dibuat waktu itu, Sampai sekarang buku rekening belum kami terima,” katanya.

Sedangkan mengenai bantuan Rp 25 juta dari Rp 50 juta yang berhak diterimanya, Samsatir menerangkan bahwa alat berat pemotong batang kelapa yang dijanjikan sampai sekarang tidak pernah digunakannya.

Samsatir masih mengingat bahwa sebelumnya, Latif telah berjanji ketika sudah ada alat yang dibeli di Tawau Malaysia itu maka digunakan untuk keperluan semua petani yang menjadi anggotanya.

“Katanya itu alat berat ada tapi tidak pernah juga dilihat dan dipakai petani dengan alasan tidak bisa dipakai,” terang Samsatir. (****)