
TANJUNG SELOR Proyek PLTA sungai Kayan rencananya akan dibangun lima bendungan. Bendungan pertama menghasilkan 900 Megawatt, bendungan kedua 1.200 Megawatt, bendungan ketiga dan keempat masing masing 1.800 Megawatt, serta bendungan ke lima sekitar 3.300 Megawatt.
“Bendungan PLTA Kayan ini akan mejadi terbesar di Asia. Perijinan PLTA panjang. Insyaallah akan segera terbit izin konstruksi bendungan oleh Kementerian PUPR. Ini saja prosesnya bisa dua tahun. Dewan Komisi Keamanan Bendungan, terdiri pada ahli dan pakar bendungan di Indonesia. Merekalah yang mengkaji terlebih dahulu. Selain itu juga memikirkan tentang keamanan dan keselamatan bendungan tersebut, selain itu juga kelengkapan AMDAL dan sebagainya,”jelas Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Utara, kemarin.
Dikatakannya, pembangunan PLTA memang tahapannya panjang, tidak seperti pembangunan PLTU yang hanya membutuhkan waktu sekitar dua tahun sampai tiga tahun. Hal ini karena risiko keamanan dan keselamatan pembangunan PLTA lebih besar, sehingga perlu kehati-hatian.
“Artinya, membangun PLTA tidak bisa instan,perlu kematangan dan perijinan panjang. Tidak mudah. Kalau cepat bisa berisiko, semisal bendungan roboh karena tidak mampu menahan air, itu bisa menimbulkan bencana,” kata Ferdy lagi.
Bila nantinya PLTA ini rampung terbangun, selain mencukupi kebutuhan lokal, listrik yang dihasilkan juga akan menjadi penyangga utama ibukota negara bila sudah pindah ke Kalimantan Timur.
“Listrik tersebut juga bisa disuplay keluar negeri seperti Tawau Malaysia dan sekitarnya, ” tutup Ferdy Manurun Tanduklangi Kepala Dinas ESDM Provinsi Kalimantan Utara. * Ton.