NUNUKAN, Kaltaraaktual.com–
Bantuan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) bermasalah penyalurannya kepada petani kelapa sawit di Pulau Sebatik, hal ini disampaikan Samsatir dengan umlahnya sebesar Rp9 miliar.
Samsatir yang mewakili Petani kelapa sawit di Pulau Sebatik membenarkan pernah didatangi di rumahnya oleh Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mamminasae Latif bersama seorang temannya bertujuan untuk dibujuk uang damai dengan nominal Rp2,5 juta sebagai perawatan perkebunan kelapa sawit miliknya.
Samsatir membantah telah berdamai dan tidak menuntut lagi haknya bersama petani kelapa sawit lainnya.
“Saya tolak itu tawaranmu, apalah dibilang orang lain kalau saya makan sogok sama kau. Saya berjuang ini bukan untuk diri sendiri tapi kepentingan demi orang banyak, iya begitu ceritanya,” kata Samsatir Jumat, ketika di hubungi via seluler (16/07).
Dirinya mengaku uang bujukan tersebut ditolak dengan alasan bukan untuk kepentingan pribadinya saja. Perjuangannya terkait dengan dana bantuan sebesar Rp9 miliar itu adalah kepentingan bagi seluruh petani kelapa sawit yang merasa dirugikan Gapoktan Mamminasae.
Menurut Samsatir bantuan PSR jumlahnya sebesar Rp9 miliar oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) pada 2020. Dana ini diperuntukkan membiayai peremajaan kelapa sawit dengan tujuan meningkatkan produksi (replanting).
Soal ia telah berdamai dengan Latif (Ketua Gapoktan Mamminasae) samsatir membantahnya kembali, dirinya menjelaskan bahwa saat didatangi di rumahnya ia disuruh berjabat tangan oleh temannya baru difoto. Menurutnya, ia tidak ada niat untuk menghentikan keberatannya atas haknya bersama warga lain terkait bantuan dana PSR tersebut.
“Saya itu disuruh jabat tangan jadi saya jabat tangan sama Latif karena menghargai sebagai tamu. Waktu bicara dan jabat tangan itu saya dishooting sama temannya yang mengaku wartawan. Memang saya dibujuk diberikan uang 2,5 juta katanya untuk biaya racun dan tumbang kelapa sawit tapi saya tolak,” terang dia.
Samsatir menegaskan, bahwa dia dan warga lainnya tidak pernah berdamai bahkan menyudahi soal belum tersalurkannya bantuan PSR.
“Saya tidak pernah damai. Memang saya ditawari uang tapi saya tolak,” tegas Samsatir. (****)
