NUNUKAN, Kaltaraaktual.com– Wakil Bupati Nunukan disela monitoring program fisik pembangunan di Pulau Sebatik juga mengingat akan penting ha pencegahan dan penanganan Stunting serta Gizi Anak.
Hanafiah mengungkapkan berbagai upaya sudah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten dan kecamatan untuk menghilangkan stunting di Kabupaten Nunukan.
“Hal ini harus menjadi motivasi bagi kita semua mulai tingkat RT, desa, kecamatan dan kabupaten untuk terus melakukan kegiatan inovasi yang dapat memperbaiki status gizi masyarakat, menekan stunting dan gizi buruk,” ungkap Hanafiah (08/09).
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita dari kekurangan gizi kronis sehingga anak lebih pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal kehidupan setelah lahir, tetapi baru nampak setelah anak berusia dua tahun.
Diakui Hanafiah, Kabupaten Nunukan masih terdapat stunting dan gizi buruk pada balitanya dikarenakan dampak wabah Covid-19.
“Mungkin bisa salah satu penyebabnya adalah Covid-19 yang berdampak pada ekonomi secara tidak langsung sehingga suaminya harus di-PHK, atau usahanya tidak bisa jalan karena Covid-19,” kata Hanafiah.
Kedepan ia berharap agar program pencegahan dan penuntasan Stunting terarah dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, karena permasalahan kesehatan khususnya stunting, gizi buruk sangat kompleks sehingga untuk menyelesaikannya juga harus melibatkan seluruh stakeholder.
Berdasarkan data yang bersumber dari Kominfo Kaltara Prevalensi stunting di provinsi Kaltara pada tahun 2020 tercatat sebesar 18,15 persen.
Sedangkan data Dinkes Kabupaten Nunukan yang diukur pada tahun 2020 sebanyak 13.367 anak. Dari data tersebut, jumlah balita pendek dan sangat pendek sebanyak 2.714 anak atau 20,3 persen dari total balita yang ada. (KA)


