Kaltara aktual. Com, TARAKAN – Sektor peternakan di Kalimantan Utara (Kaltara) saat ini menghadapi tantangan serius akibat tingginya harga pakan.
Kondisi tersebut tidak hanya membebani peternak, tetapi juga berdampak langsung pada harga telur yang beredar di pasaran.
Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Kaltara, Jufri Budiman mengungkapkan, pakan menjadi komponen biaya paling dominan dalam usaha peternakan.
Bahkan, porsinya bisa mencapai setengah dari total biaya produksi. “Biaya pakan bisa menyentuh angka 50 persen dari keseluruhan biaya produksi. Ini yang kemudian berimbas langsung pada harga jual telur di tingkat konsumen,” ujar Jufri belum lama ini.
Ia menjelaskan, tingginya biaya tersebut tidak lepas dari ketergantungan peternak terhadap pasokan pakan dari luar daerah.
Distribusi yang panjang dan fluktuasi harga membuat biaya semakin sulit dikendalikan.
Menurut Jufri, kondisi ini menempatkan peternak pada posisi yang cukup rentan. Di satu sisi, mereka harus menjaga keberlanjutan usaha, sementara di sisi lain dihadapkan pada tingginya biaya operasional.
“Kalau kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi, tentu akan mempengaruhi perkembangan sektor peternakan di daerah. Peternak bisa semakin tertekan,” katanya.
Ia pun menilai, diperlukan langkah konkret dan terukur untuk mengurangi beban biaya produksi, agar peternak lokal tetap mampu bertahan sekaligus meningkatkan produktivitasnya. (Adv)


