NUNUKAN, Kaltaraaktual.com– Siapa yang tak mengenal H Abdul Hafid Achmad mantan Bupati Nunukan dua periode, yakni dari 2001-2006 dan 2006-2011 hingga pada tahun 2014-2015 sempat menjadi wakil ketua DPRD Nunukan.
H Hafid sudah malang melintang menghiasi perpolitikan daerah, ia juga merupakan politikus senior di Kalimantan Utara, prediksi-prediksi pengamat politik di Kaltara tak jarang sulit memprediksi langkah politik seorang bapak pembangunan Kabupaten Nunukan ini. Namun semua sepak terjangnya bukan hanya sekedar politik semata melainkan murni membangun daerah baik dari sisi Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alamnya.
Bahkan bisa dikatakan, H Hafid sapaan akrabnya sebagai bapak pembangunan Kabupaten Nunukan, bukan tanpa alasan label ini secara tidak langsung mengemuka dikalangan masyarakat. Pria kelahiran 31 Desember 1947 silam yang resmi menjadi Bupati pertama di Nunukan tahun 2001, disinilah awal mula ia melakukan gebrakan pembangunan dan inisiasi (merintis) pembangunan.
Bisa terlihat semenjak kepemimpinannya berdiri gedung-gedung perkantoran seperti yang diketahui bersama yakni pembangunan Kantor Bupati, Gedung DPRD dan Gedung Gabungan Dinas (Gadis), RSUD Nunukan, membuka peluang kerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten hingga usaha mandiri masyarakat, serta membangun infrastruktur secara merata di kabupaten Nunukan, kemudian membuka peluang kerja pada sektor perkebunan Sawit di wilayah II dan III.
Bulan Januari 2022 (kemarin) usianya tepat 75 tahun, tapi semangatnya tidak pernah luntur untuk mengabdikan diri membangun daerah baik dari kabupaten Nunukan, masyarakat Kalimantan Utara, bahkan siap memperjuangkan masyarakat Kalimantan Utara di Pusat dalam hal ini bakal mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI melalui partai Nasional Demokrat (Nasdem) tahun 2024 mendatang.
Secara geopolitik, H Hafid tuntas memahami seluk beluk Kalimantan Utara dan sudah mengetahui keuntungan dan kerugian, baik dari aspek politik, pertahanan dan keamanan, ekonomi, perdagangan dan alur perdagangan lintas negara.
Condong pemikiran H Hafid yakni dengan cara berpikir wawasan nusantara memandang Kalimantan Utara sebagai miniatur bangsa Indonesia dan memahami perwujudan kebhinekaan. Menyatukan perbedaan dan batasan wilayah, sehingga selama masa kepemimpinannya masyarakat bisa hidup berdampingan dan utuh dalam mencapai tujuan bersama yang tentunya semua berdasarkan falsafah Pancasila.
Kalimat sederhananya, apabila seseorang akan memenangkan suatu perlombaan, maka orang tersebut harus paham dengan medan dan mengetahui strategi terbaik yang harus dilakukan, ini yang dimiliki dirinya tapi belum tentu dimiliki orang lain. (KA)


