NUNUKAN, Kaltaraaktual.com– Bencana banjir tahunan di Kecamatan Sembakung kembali menjadi salah satu poin penting yang disampaikan oleh Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid di saat acara ramah tamah dan rapat koordinasi bersama rombongan dari Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP), kemenlu, Kemenkopolhukam, dan Kemendagri yang digelar di Rumah Makan Leflin, Selasa (09/03).
Masyarakat Nunukan sudah merasa terbiasa dengan banjir kejadian tersebut, namun tidak elok rasanya sebagai pemerintah tidak memberikan solusi terhadap kejadian yang terjadi di setiap tahunnya.
Bupati Laura menyampaikan bahwasannya pemerintah daerah selama ini berusaha membantu sebatas memberikan sembako di saat banjir datang, hal ini dikatakannya di hadapan Asisten Deputi Pengelolaan Negara Wilayah Laut dan Udara BNPP Siti Metrianda, Asdep Pengelolaan Lintas Batas Negara BNPP Murtono, dan Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu Judha Nugraha.
“Sementara banjir ini kita istilahkan banjir kiriman dari Malaysia. Beberapa waktu yang lalu sebenarnya kita selalu menyuarakan dalam Sosek Malindo dan sebagainya. Pertanyaan masyarakat di Sembakung sampai kapan kita akan seperti ini, disana ada ribuan masyarakat yang selalu terkena dampaknya tiap tahunnya,” ujar Bupati.
Perlu segera ada solusi dan bantuan dari pemerintah pusat karena kewenangan Pemerintah Daerah sangat terbatas. Bupati juga mengaku selama ini telah berupaya bersurat ke berbagai instansi secara berjenjang dan ditembuskan ke berbagai pihak.
“Saya kira sudah saatnya kita kumpul sama-sama ini mudah-mudahan ada titik jelas solusi dari pemerintah pusat terkait dengan persoalan banjir Sembakung ini,”ujar Laura.

Sementara itu Plt. Camat Lumbis Pansiangan, Lumbis yang mengetahui seluk beluk banjir kiriman tersebut menjalaskan, bahwa nama sungai Sembakung dalam dokumen Malaysia tidak diketemukan dikarenakan nama sungai Sembakung berubah nama penyebutannya dalam dokumen Malaysia.
“Sampai di Labang nama sungai Sembakung berubah menjadi sungai Pansiangan. Sungai Pansiangan ini juga panjang kearah Malaysia, sampai di Pangalungan dia berubah nama lagi menjadi sungai Logongon, sampai di Salung berubah nama lagi menjadi sungai Pampangon, nanti sampai di Sepulut berubah lagi menjadi sungai Panawan, dan sampai di Panawan mungkin kalau kita kenal Keningau Nabawan, sungai itu berasal dari sana,” jelas Lumbis.
Banjir yang terjadi setiap tahun ini selain banjir air, juga disertai limbah dikarenakan perkembangan perkebunan begitu pesat di wilayah Malaysia.
“Mungkin di kesempatan yang baik ini saya memberikan masukan agar BNPP, Kementerian Luar Negeri, dan Kemenkopolhukam bisa mengangkat persoalan ini ke hubungan Bilateral, mengingat seperti sungai Mekong yang melalui lima negara, ternyata sungai itu ada kerjasamanya,” tambah Lumbis.
Kedepan, Lumbis berharap kiranya pemerintah Indonesia dan Malaysia dapat menjalin komunikasi sehingga Nunukan (Indonesia) tidak menanggung sendiri akibatnya setiap tahunnya mengingat ada tiga kota besar diatas di wilayah Malaysia yakni Kota Sepulut, Nabawan dan Keningau.
“Saya kira hal ini penting, kepentingan Malaysia tentunya juga ada karena arah sungai di wilayah Malaysia juga panjang,” pungkasnya. (Humas/Rung)


