Dari Kata “Tidak” Lahir Kaltara: Jejak Awal Perlawanan yang Mengubah Sejarah

oleh
oleh
Foto: doc pribadi Penulis OPINI: Samiun

OPINI, KaltaraAktual.com- Sejarah tidak selalu dimulai dari keputusan besar di meja kekuasaan. Terkadang, ia justru lahir dari keberanian sederhana: mengatakan “tidak”. Begitulah jika kita menelusuri kembali jejak awal terbentuknya Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) sebuah perjalanan panjang yang tidak lepas dari keberanian kolektif masyarakatnya melawan rasa ketidakadilan.

Pada masa ketika wilayah utara masih menjadi bagian dari Kalimantan Timur (Kaltim), ketimpangan pembangunan dan minimnya perhatian terhadap daerah-daerah seperti Bulungan, Nunukan, dan Malinau bukan lagi sekadar keluhan, melainkan akumulasi kekecewaan yang menuntut arah baru.

Dalam situasi itulah, Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Timur (KMPKT) hadir bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai simbol perlawanan yang terorganisir.

Namun, setiap gerakan besar selalu memiliki titik nyala. Dalam konteks ini, momen penolakan terhadap pencalonan kembali Bapak Swarna Maju sebagai Gubernur Kaltim menjadi salah satu pemicu penting. Bagi sebagian orang, langkah tersebut mungkin terlihat kontroversial. Tapi bagi masyarakat utara, itu adalah bentuk komunikasi paling tegas kepada pusat kekuasaan: bahwa ada wilayah yang merasa belum benar-benar diperhatikan.

Baca Juga  Iman, Persaudaraan, dan Masa Depan Malinau

Di sinilah peran anak muda menjadi sangat menentukan. Sosok Bang Sofyan Asnawie tampil di garis depan, membawa suara mahasiswa dan generasi yang menginginkan perubahan sistemik. Penolakan yang mereka gaungkan bukanlah ekspresi kebencian personal, melainkan strategi politik yang cerdas, sebuah tekanan moral agar pemerintah pusat membuka mata terhadap tuntutan pemekaran wilayah.

Lebih dari itu, perjalanan Bang Sofyan Asnawie tidak berhenti di momentum gerakan tersebut. Ia kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh jurnalis di Kaltara, yang konsisten mengawal isu-isu daerah, menyuarakan kepentingan masyarakat, serta menjaga nalar kritis publik melalui karya-karya jurnalistiknya. Perannya di dunia pers menjadi kelanjutan dari semangat perjuangan masa mudanya, bahwa perubahan harus terus dijaga, bukan hanya diperjuangkan.

Baca Juga  Guru Panyit dan Jejak Awal Kepemimpinan di Ujung Utara

Gerakan “tidak pilih” yang digaungkan saat itu bukan sekadar sikap apatis terhadap politik, melainkan bentuk perlawanan aktif. Ia adalah simbol bahwa masyarakat utara tidak lagi ingin sekadar menjadi pelengkap dalam struktur besar Kaltim, tetapi ingin berdiri sebagai entitas yang mandiri, dengan kewenangan mengatur masa depan sendiri.

Dari situlah, api perjuangan semakin membesar. Penolakan berubah menjadi konsolidasi, konsolidasi menjelma menjadi gerakan kolektif, hingga akhirnya bermuara pada lahirnya Provinsi Kaltara. Sebuah bukti bahwa sejarah besar sering kali dimulai dari keberanian untuk berbeda sikap.

Baca Juga  Teteskan Semangat Kemerdekaan, Kadispora Kaltara Donor Darah ke-70 Kali

Hari ini, ketika kita menikmati hasil dari pemekaran itu, penting untuk tidak melupakan bahwa fondasinya dibangun dari keberanian, idealisme, dan pengorbanan. KMPKT dan figur seperti Bang Sofyan Asnawie telah menunjukkan bahwa perubahan tidak datang dari kenyamanan, melainkan dari keberanian menantang keadaan.

Opini ini bukan sekadar romantisasi masa lalu, melainkan pengingat bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab yang sama: berani bersuara ketika ketidakadilan terjadi. Karena bisa jadi, dari satu kata “tidak” hari ini, lahir perubahan besar di masa depan.

Opini oleh: Samiun

Tinggalkan Balasan