APAU KAYAN, KaltaraAktual.com- Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Utara (Kaltara), Ingkong Ala, meninjau langsung kondisi Rumah Sakit (RS) Pratama Long Ampung di Kecamatan Kayan Selatan, Kabupaten Malinau, dalam kunjungan kerja ke wilayah perbatasan Apau Kayan pada Selasa (24/03/26).
Dalam peninjauan itu, Ingkong menemukan berbagai persoalan mendasar yang menghambat optimalnya pelayanan kesehatan. Bangunan rumah sakit tipe D tersebut terlihat mengalami kerusakan di sejumlah bagian, terutama pada plafon di area ruang rawat inap yang rusak parah, sehingga berpotensi mengganggu kenyamanan dan keselamatan pasien.
“Ini sangat memprihatinkan. Rumah sakit di wilayah perbatasan seharusnya menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan, tetapi kondisinya belum layak,” kata Ingkong Ala.
Ia menegaskan, pihaknya akan mendorong percepatan perbaikan fasilitas serta pemenuhan tenaga medis melalui koordinasi lintas pemerintah, termasuk dengan pemerintah pusat.
“Terkait Plafon yang sudah rusak, ini persoalan teknis konstruksi. Seharusnya tidak terjadi kalau dikerjakan dengan baik sejak awal,” tegasnya.
Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala Tata Usaha RS Pratama Long Ampung, dr. Hendra, mengungkapkan pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut telah berjalan sejak 2017. Namun, hingga kini statusnya masih sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) BPJS, setara dengan puskesmas.
“Pelayanan sudah berjalan sejak 2017 dengan status BPJS sebagai FKTP. Artinya masih setara puskesmas,” jelasnya.
Ia menyebut, keterbatasan tenaga medis menjadi kendala utama apalagi Saat ini hanya terdapat dua dokter umum tanpa dukungan dokter spesialis. Kondisi ini diperberat dengan operasional rumah sakit yang berjalan 24 jam.
“Dokter umum hanya dua orang, sementara spesialis belum ada,” katanya.
Ia mengaku, beban kerja tenaga medis tidak sebanding dengan jumlah personel maupun skema tunjangan yang masih disamakan dengan puskesmas.
“RS beroperasi 24 jam, sementara jumlah dokter terbatas. Tunjangan masih disamakan dengan puskesmas,” ujarnya.
Ia menambahkan RS Pratama Long Ampung yang memiliki 13 perawat dan lima bidan itu menopang layanan kesehatan di wilayah perbatasan yang memiliki tantangan geografis tinggi.
Persoalan infrastruktur juga menjadi hambatan serius. Pasokan listrik yang belum stabil membuat sejumlah alat kesehatan kerap mengalami kerusakan.
“Listrik masih mengandalkan genset dan PLTS. Jaringan PLN belum masuk, sehingga berdampak pada alat kesehatan yang sering rusak,” ungkap dr. Hendra.
Selain itu, beberapa bagian bangunan rumah sakit membutuhkan renovasi agar layak digunakan untuk pelayanan.
Terkait program “dokter terbang” dari Dinas Kesehatan Kaltara ia mengakui bahwa program tersebut pernah dilaksanakan, namun tidak berjalan rutin.
“Pernah ada, tapi hanya sesekali dalam beberapa tahun terakhir, mungkin satu sampai dua kali. Pelayanannya pun hanya satu hari,” kata dr Hendra
“Kita berharap Pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret agar masyarakat di kawasan perbatasan mendapatkan akses layanan kesehatan yang layak dan berkelanjutan,” tutupnya.(*)
