NUNUKAN, Kaltaraaktual.com– Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Kabupaten Nunukan Hj Nikmah telah menyelasaikan agenda penjaringan aspirasi masyarakat (reses) di lima desa di daerah pemilihannya.
“Masyarakat banyak keluhkan infrastrukstur jalan baik itu jalan lingkungan (Jaling), permukiman, dan jalan pertanian baik sawah maupun perkebunan,” beber Hj Nikmah saat ditemui di ruang kerjanya pada Rabu (30/03).
Namun demikian, ia menyebutkan telah memberikan pemahaman kepada warga terkait jalan yang mereka keluhkan itu. Dia menyampaikan terbatasnya Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sehingga kondisi jalan yang rusak tidak semuanya dapat diperbaiki tahun ini.
Selain itu, kata Hj Nikmah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) juga tidak bisa digunakan karena telah dianggarkan sesuai peruntukannya masing-masing.
Karenanya, ia berharap pemerintah ke depannya bisa memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan infrastruktur jalan di Sebatik, khususnya pemerintah pusat yang kini tengah memfokuskan diri dalam pembangunan Jalan Lingkar Sebatik.
“Dengan bagusnya infrastruktur jalan, maka hasil pertanian ataupun perkebunan juga dapat dengan mudah diangkut dan distribusikan sehingga menekan biaya produksi,” imbuhnya.
Terkait jaringan listrik, Hj Nikmah menuturkan bahwa warga di daerah Sebatik Tengah belum sepenuhnya bisa menikmati layanan penerangan dari pemerintah ini.
“Bahkan ada satu pusat layanan publik dalam hal ini kantor camat Kecamatan Sebatik Timur itu belum ada listriknya,” beber Hj Nikmah.
Dia berharap masyarakat tidak berputus asa mengusulkan aspirasinya kepada pemerintah meskipun belum direalisasikan. Bukan karena pemerintah menutup mata dan telinga tapi karena wilayah geografis Kabupaten Nunukan yang tidak hanya Pulau Nunukan dan Sebatik saja.
“Ada saudara-saudara kita di Krayan, Sebuku, Lumbis dan Sembakung yang juga sangat membutuhkan perhatian pemerintah sehingga pembangunan bisa secara adil dan merata di Kabupaten Nunukan,” jelas Hj Nikmah.
Lebih lanjut, Hj Nikmah menyebutkan adanya keluhan warga Desa Bukit Harapan, Sebatik Tengah yang menjadi korban banjir kiriman dari bendungan milik PDAM Tirta Taka yang sering terjadi saat musim hujan.
Menurut penyampaian warga Desa Bukit Harapan ini, seusai hujan lebat, kampung mereka akan tergenangi air yang merupakan kiriman luapan dari Bendungan Lapri, dimana sebelum bendungan itu berdiri, masalah banjir tidak pernah mereka alami.
“Parahnya lagi, mereka merasa dapat ampasnya dan orang lain menikmati manisnya karena layanan air bersih PDAM belum sampai ke desa mereka,” ulang Hj Nikmah dari pernyataan warga. (skr)


