DLH Kaltara Ajak Warga Kurangi Sampah Plastik Lewat Gerakan 3R dan Ecobrick

oleh -1188 Dilihat
oleh
Foto ilustrasi

TANJUNG SELOR, KaltaraAktual.com- Persoalan sampah plastik masih menjadi pekerjaan rumah besar di Kalimantan Utara. Saat musim hujan tiba, aliran sungai yang dipenuhi sampah kerap memicu genangan hingga banjir di sejumlah wilayah. Kondisi ini juga berdampak pada kesehatan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Utara (Kaltara) menilai penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi perlu dimulai dari perubahan kebiasaan masyarakat di tingkat rumah tangga.

Kepala DLH Kaltara, Hairul Anwar, mengatakan volume sampah terus meningkat setiap tahun seiring bertambahnya aktivitas masyarakat. Sementara kapasitas pengelolaan sampah dinilai masih terbatas.

Baca Juga  Pemprov Kaltara Perkuat Perhatian untuk Mahasiswa yang Kuliah di Luar Daerah

“Kalau pola pengelolaan sampah tidak berubah, maka beban lingkungan akan semakin besar. Karena itu pengurangan sampah harus dimulai dari sumbernya,” kata Hairul, Senin (25/05/26).

Data DLH Kaltara mencatat potensi timbulan sampah di wilayah Kaltara mencapai sekitar 146 ribu ton per tahun. Sebagian besar berasal dari aktivitas rumah tangga, dengan komposisi didominasi sampah organik dan plastik sekali pakai.

Menurut Hairul, salah satu langkah yang terus didorong pemerintah adalah penerapan pola hidup 3R atau reduce, reuse, recycle. Konsep ini dianggap sederhana, namun efektif menekan produksi sampah harian masyarakat.

Ia mencontohkan kebiasaan kecil seperti membawa tas belanja sendiri, memakai tumbler, hingga memanfaatkan kembali barang bekas dapat membantu mengurangi sampah plastik yang berakhir di TPS maupun sungai.

Baca Juga  Pemkab Bulungan Gandeng Kadin Bangun Ekonomi Daerah yang Inklusif

Selain gerakan 3R, DLH Kaltara juga mulai mengenalkan metode ecobrick kepada masyarakat dan komunitas lingkungan. Ecobrick dilakukan dengan memasukkan limbah plastik ke dalam botol hingga padat, lalu dimanfaatkan menjadi kursi, meja, hingga bahan konstruksi sederhana.

“Ecobrick menjadi salah satu cara untuk mengurangi sampah plastik yang sulit terurai. Jadi sampah tidak hanya dibuang, tetapi diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.

Hairul menjelaskan, metode tersebut cukup efektif menekan volume sampah plastik. Limbah plastik yang biasanya memenuhi satu kardus dapat dipadatkan menjadi beberapa botol ecobrick yang lebih mudah dimanfaatkan.

Baca Juga  Turun Langsung Sidak Gudang Bulog, Anggota DPR RI Rahmawati Pastikan Stok Beras Tetap Aman

Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat, komunitas, sekolah, hingga pelaku usaha agar budaya peduli lingkungan dapat berjalan berkelanjutan.

DLH Kaltara berharap edukasi terkait pengurangan sampah dan pengelolaan plastik terus diperluas sebagai bagian dari target mewujudkan program Kaltara Zero Waste 2029.

“Setidaknya lewat langkah kecil seperti ini, kita ikut mengurangi pencemaran dan menjaga lingkungan tetap bersih untuk generasi mendatang,” tutupnya. (ik/*red)

Bagikan

Tinggalkan Balasan