MALINAU, Kaltaraaktual.com- Program Desa Sarjana Unggul yang digagas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau mulai menunjukkan hasil. Sejumlah mahasiswa penerima beasiswa kini telah menyelesaikan pendidikan tinggi dan bersiap kembali ke desa untuk mengabdikan ilmu yang mereka peroleh.
Program yang menjadi salah satu prioritas Bupati Malinau Wempi W. Mawa itu dirancang untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi putra-putri desa sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan pembangunan di wilayah masing-masing.
Salah satu penerima manfaat, Lili Mersi Merang dari Desa Nawang Baru, mengaku program tersebut menjadi titik balik yang membuatnya dapat menyelesaikan kuliah di Jurusan Gizi. Ia mengikuti Program Desa Sarjana Unggul pada 2024 dan lulus pada 2026.
Menurut Lili, ilmu yang diperolehnya akan difokuskan untuk mengatasi persoalan kesehatan masyarakat di desanya, terutama edukasi pola makan sehat bagi ibu hamil serta pencegahan stunting pada balita.
“Masih banyak masyarakat yang menganggap yang penting makan, tanpa memperhatikan kecukupan gizi. Saya ingin memberikan edukasi mengenai pola hidup sehat dan membantu menekan angka stunting di Desa Nawang Baru,” ujarnya, Kamis, 06/08/26).
Lili mengungkapkan, sebelum memperoleh beasiswa, ia hampir menghentikan kuliah karena keterbatasan biaya. Orang tuanya sempat merasa keberatan membiayai pendidikan di jurusan yang dipilihnya.
“Saya bahkan sempat berpikir untuk cuti kuliah. Setelah mendapat informasi Program Desa Sarjana Unggul, saya mendaftar dan akhirnya diterima. Program ini membuat saya bisa melanjutkan hingga lulus,” katanya.
Ia menambahkan, orang tuanya merasa sangat terbantu karena beasiswa tersebut mengurangi beban biaya pendidikan yang harus ditanggung keluarga.
Cerita serupa disampaikan Dika Stephanie Christine dari Desa Setulang yang bergabung dalam Program Desa Sarjana Unggul sejak 2022. Mahasiswi Jurusan Kehutanan itu menilai beasiswa tidak hanya meringankan ekonomi keluarga, tetapi juga membuka peluang untuk berkontribusi terhadap pengelolaan hutan di desanya.
Dika mengatakan, setelah menyelesaikan masa magang di kantor, ia akan menjalani pengabdian selama enam bulan di desa. Selama masa itu, ia ingin membantu pemerintah desa mengembangkan potensi kawasan hutan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
“Ilmu yang saya pelajari di kampus nantinya ingin saya terapkan untuk membantu desa mengelola sumber daya hutan secara baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, penerima manfaat lainnya, Urai dari Desa Wisata Setulang, mengaku Program Desa Sarjana Unggul menjadi kesempatan besar baginya untuk menyelesaikan pendidikan meski berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris angkatan 2024 itu mengatakan beasiswa yang diterimanya membantu memenuhi biaya kuliah hingga kebutuhan tempat tinggal selama menempuh pendidikan.
Setelah kembali ke desa, Urai berencana membuka kelas bahasa Inggris bagi anak-anak dan masyarakat. Menurutnya, kemampuan berbahasa asing akan menjadi nilai tambah karena desa wisata tempat tinggalnya cukup sering dikunjungi wisatawan.
“Saya ingin membuka les bahasa Inggris untuk anak-anak maupun masyarakat yang ingin belajar. Harapannya, kemampuan itu bisa mendukung pengembangan desa wisata dan masyarakat juga lebih siap menjadi pemandu wisata,” ujarnya.
Program Desa Sarjana Unggul menjadi salah satu program unggulan Bupati Wempi W. Mawa dalam membangun kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Malinau. Melalui skema beasiswa dan pengabdian di desa setelah lulus, Pemkab Malinau berupaya memastikan lulusan perguruan tinggi tidak hanya memperoleh pendidikan, tetapi juga kembali membawa ilmu dan inovasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan, kesehatan, pendidikan, hingga pengelolaan potensi desa.

Bagi Pemkab Malinau, keberhasilan program ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan pemerataan pendidikan hingga pelosok sekaligus menyiapkan generasi muda yang mampu menjadi penggerak pembangunan di desa masing-masing.
Program Desa Sarjana Unggul juga menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Malinau, jumlah pendaftar terus melonjak sejak program dimulai pada 2021.
Pada 2021 tercatat sebanyak 49 pendaftar dengan 41 peserta diterima. Angka itu meningkat menjadi 143 pendaftar pada 2022, 376 pendaftar pada 2023, lalu melonjak menjadi 806 pendaftar pada 2024 dan 802 pendaftar pada 2025.
Dari peserta yang diterima, hingga saat ini tercatat 94 mahasiswa telah lulus, terdiri dari 20 lulusan angkatan 2021, 15 lulusan angkatan 2022, 33 lulusan angkatan 2023, dan 26 lulusan angkatan 2024. Selain itu, 71 lulusan telah ditempatkan sebagai tenaga terampil di desa untuk mendukung pelayanan dan pembangunan masyarakat.
Sementara itu, 1.758 peserta masih menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi melalui dukungan beasiswa Program Desa Sarjana Unggul.
Komitmen Pemkab Malinau terhadap pemerataan pendidikan juga terlihat dari besarnya anggaran yang dialokasikan. Nilai penyaluran biaya pendidikan meningkat signifikan setiap tahun, mulai dari Rp668 juta pada 2021, Rp2,238 miliar pada 2022, Rp7,463 miliar pada 2023, Rp18,752 miliar pada 2024, hingga mencapai Rp47,915 miliar pada 2025.
Memasuki tahun 2026, Program Desa Sarjana Unggul kembali mendapat antusiasme tinggi. Sebanyak 1.027 orang mendaftar sebagai calon peserta.
Seleksi tahun ini memprioritaskan jurusan yang dibutuhkan untuk pembangunan daerah, antara lain kedokteran, kesehatan, teknik, kehutanan, pertanian, keagamaan, sastra bahasa asing (Mandarin dan Inggris), serta sekolah pilot.
Setelah melalui seleksi administrasi, sebanyak 664 peserta dinyatakan lolos ke tahap uji kompetensi yang meliputi tes tertulis dan wawancara. Mereka berasal dari berbagai jalur pendaftaran, yakni 376 orang jalur kebutuhan pemerintah daerah, 67 jalur tidak mampu, 79 jalur prestasi, 101 jalur keagamaan, 28 jalur kerja sama, 10 jalur profesi, dan 3 jalur sekolah pilot.
Peningkatan jumlah peserta dan besarnya investasi pendidikan tersebut memperkuat komitmen Bupati Malinau Wempi W. Mawa menjadikan pendidikan sebagai salah satu fondasi utama pembangunan daerah. Melalui Program Desa Sarjana Unggul, Pemkab Malinau tidak hanya membuka akses pendidikan tinggi bagi anak-anak desa, tetapi juga menyiapkan sumber daya manusia yang akan kembali mengabdi untuk meningkatkan kualitas pelayanan, kesehatan, pendidikan, hingga pengelolaan potensi desa di seluruh wilayah Kabupaten Malinau.(***)


