NUNUKAN, Kaltaraaktual.com- Pemerintah Kabupaten Nunukan mengukuhkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Paguntaka. Pengukuhan tersebut dirangkai dengan workshop peningkatan kapasitas keselamatan wisata di kawasan Bosoy Batu Bedinding, Air Terjun Binusan. Sebanyak 62 peserta mengikuti kegiatan tersebut.
Peserta berasal dari pengelola SAE Lanuka, Pokdarwis Paguntaka, Pokdarwis Belaga One hingga pengelola wisata Pantai Eching. Sejumlah instansi juga dilibatkan, mulai dari Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Utara, Dinas Kesehatan, BPBD, Diskominfotik, Disbudporapar hingga Basarnas Nunukan.
Dalam kegiatan itu, Pemkab Nunukan menekankan bahwa pengembangan pariwisata tak cukup hanya mengandalkan keindahan destinasi. Aspek keselamatan, kapasitas pengelola hingga keterlibatan masyarakat juga menjadi perhatian.
Pesan tersebut disampaikan Bupati Nunukan H Irwan Sabri melalui Kepala Disbudporapar Nunukan H Surai.
“Kalau dalam olahraga kita mengenal istilah tim, maka pariwisata juga membutuhkan sebuah tim yang kuat. Ada pemerintah, ada masyarakat, ada Pokdarwis, ada pemandu wisata, ada pelaku usaha dan ada generasi muda, semua harus bergerak bersama,” kata Surai saat membacakan sambutan Bupati Nunukan, belum lama ini, (09/26).
Bupati juga meminta Pokdarwis yang telah dikukuhkan tidak berhenti pada pembentukan kepengurusan. Kelompok tersebut diharapkan aktif menjaga destinasi, termasuk kebersihan, keamanan, kenyamanan dan kelestarian lingkungan.
“Jangan hanya menjadi penonton, jadilah pemain di lapangan,” pesan Irwan kepada generasi muda.
Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Nunukan Andi Fajrul Syam turut mendorong Pokdarwis meningkatkan kapasitas anggotanya.
Menurutnya, kemampuan komunikasi, termasuk public speaking, menjadi salah satu bekal penting bagi pengelola dan pemandu wisata ketika berhadapan dengan wisatawan.
Dia juga menyebut aspirasi Pokdarwis mengenai kebutuhan dukungan anggaran dapat disampaikan kepada Komisi II DPRD Nunukan.
Selain itu, dia mengingatkan agar pengembangan pariwisata turut melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat. Data desil, kata dia, dapat menjadi salah satu bahan untuk melihat keterlibatan sekaligus manfaat pengembangan destinasi bagi warga.
Ketua Pokdarwis Paguntaka Asmadi mengapresiasi dukungan Pemkab Nunukan terhadap kelompok yang dipimpinnya.
“Kami meminta ide dan masukan agar Pokdarwis ini dapat berjalan dengan baik. Kepada dinas terkait lainnya, kami juga meminta saran dan masukan agar semuanya dapat berjalan dengan baik. Mari kita bersemangat dan bersama-sama membangunnya,” ujar Asmadi.
Dia berharap keberadaan Pokdarwis Paguntaka dapat mendukung rencana pengembangan Desa Wisata Binusan.
Kepala Bidang Pariwisata Disbudporapar Nunukan H Iskandar mengatakan workshop dirancang untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia pariwisata.
Peserta dibekali pemahaman mengenai keselamatan wisata, identifikasi risiko hingga kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.
Sekretaris Disbudporapar Nunukan Joned memaparkan konsep optimalisasi kawasan Air Terjun Bosoy Batu Bedinding Binusan sebagai pusat ekowisata dan learning center.
Menurutnya, pengembangan kawasan perlu dilakukan secara menyeluruh. Tak hanya menyangkut sarana dan prasarana, tetapi juga keselamatan, sumber daya manusia serta tata kelola ekowisata.
Bosoy Batu Bedinding juga dinilai dapat dikembangkan untuk berbagai kegiatan, seperti camping literasi dan budaya, outbound, kunjungan sekolah dan perguruan tinggi, pendidikan lingkungan, kegiatan seni hingga kegiatan sosial.
Dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Bali, Ida Bagus Suryawan memberikan materi mengenai guiding dan manajemen risiko.
Dia menekankan bahwa pemandu wisata tidak cukup hanya memahami jalur perjalanan. Pemandu juga harus mampu membaca kondisi destinasi, karakter wisatawan dan risiko yang mungkin muncul.
“Perilaku wisatawan kadang berubah. Ini merupakan bagaimana kita mengatur jadwal wisatawan dan kita mengukur. Bila tidak tercapai, mau putar balik atau lanjut ke tempat tujuan,” jelasnya.
Pemandu juga didorong mampu mengangkat cerita lokal yang tidak selalu tersedia di internet sehingga pengalaman wisatawan lebih dekat dengan karakter daerah.
Materi tersebut kemudian dilanjutkan dengan praktik yang diberikan Setya Mukti Mahanani.
Rahmansyah dari Diskominfotik Nunukan memperkenalkan sistem pelacakan wisatawan berbasis Web GIS, Progressive Web App (PWA) dan dynamic geofencing.
Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu pengelola memantau posisi wisatawan serta pergerakannya di kawasan wisata.
Sistem juga dapat memberikan peringatan ketika wisatawan keluar dari area yang telah ditentukan. Fitur SOS disiapkan untuk membantu mengirimkan informasi lokasi ketika terjadi keadaan darurat.
Sementara itu, Elsi Arung La;BI dari Dinas Pariwisata Provinsi Kaltara memberikan materi penerapan CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environment Sustainability).
Peserta diajak mengidentifikasi potensi bahaya, menilai risiko serta menyiapkan langkah pengendalian. Materinya mencakup fasilitas keselamatan, jalur evakuasi, P3K, titik kumpul, rambu hingga sistem komunikasi darurat.
Basarnas Nunukan kemudian memberikan pembekalan pertolongan dan keselamatan di air.
Jumaedi Awal menjelaskan sejumlah metode pertolongan, seperti Reach, Throw, Row, Go hingga Tow/Carry. Peserta juga mendapatkan materi jungle rescue, mulai dari pengumpulan informasi, pembagian area pencarian, metode pencarian hingga evakuasi.
Pemkab Nunukan berharap pengukuhan Pokdarwis Paguntaka dan workshop tersebut memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan destinasi wisata.
Sebab, pengembangan pariwisata tidak hanya berkaitan dengan daya tarik sebuah tempat. Pengelolaan, keselamatan, kesiapan sumber daya manusia dan kemampuan menghadapi situasi darurat juga menjadi bagian penting untuk menciptakan pengalaman wisata yang aman bagi pengunjung. (iaa/*nvl/simpatik/red)







