NUNUKAN, Kaltaraaktual.com- Lomba Mabettang dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Memasuki tahun kedua pelaksanaan, kegiatan ini dinilai memiliki potensi untuk terus dikembangkan sebagai event yang mengangkat aktivitas masyarakat pembudidaya rumput laut.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Nunukan, Juned, mengatakan antusiasme peserta pada pelaksanaan tahun ini menunjukkan Mabettang mendapat respons positif dari masyarakat.
“Ini adalah tahun kedua Dinas Pariwisata melaksanakan kegiatan Mabettang, sambutan dan antusiasme peserta luar biasa. Ini perlu kita tingkatkan ke depan supaya kualitas event-nya juga semakin baik,” ujar Juned, Minggu (4/10/26).
Menurutnya, Mabettang bukan sekadar perlombaan untuk memeriahkan HUT Kabupaten Nunukan. Kegiatan tersebut berkaitan erat dengan aktivitas masyarakat pesisir, khususnya para pembudidaya rumput laut.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi potensi yang dapat dikembangkan pemerintah daerah menjadi salah satu event khas Kabupaten Nunukan.
“Karena aktivitas Mabettang ini menjadi salah satu aktivitas yang sangat potensial, bahkan cukup menarik perhatian. Apalagi posisi kita sebagai salah satu daerah penghasil rumput laut, saya rasa ini event yang sangat menarik dan perlu terus dilaksanakan,” katanya.
46 Peserta Ikut Lomba
Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah peserta yang mengikuti perlombaan. Ketua Panitia Lomba Mabettang, Darmi, mengatakan sebanyak 50 peserta mendaftarkan diri, namun 46 peserta hadir dan mengikuti perlombaan. “Peserta yang hadir sebanyak 46 orang, terdiri dari 12 peserta putra dan 34 peserta putri,” jelasnya.
Juned menyebut dominasi peserta perempuan, terutama ibu-ibu muda, menunjukkan Mabettang memiliki keterkaitan kuat dengan aktivitas masyarakat pesisir.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi gambaran aktivitas ekonomi yang selama ini dijalankan warga.
“Bagi kami, Mabettang sudah menjadi aktivitas yang cukup vital dalam menggerakkan ekonomi masyarakat, termasuk ibu-ibu. Karena itu kita harus memberikan perhatian yang serius. Satu sisi lomba ini menghibur, tetapi di sisi lain juga menggerakkan ekonomi mereka,” tuturnya.
Lokasi dan Fasilitas Bakal Dievaluasi
Memasuki tahun kedua, Pemkab Nunukan juga akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Lomba Mabettang. Salah satu yang menjadi perhatian ialah lokasi perlombaan.
Juned mengatakan lokasi yang digunakan saat ini dinilai belum cukup memadai jika jumlah peserta dan penonton terus bertambah pada pelaksanaan berikutnya.
“Dengan antusiasme yang semakin besar, tempat yang digunakan saat ini masih kurang memadai. Ke depan mungkin menjadi pertimbangan agar lokasi lebih luas,” katanya.
Selain lokasi, sejumlah fasilitas pendukung juga akan dievaluasi. Di antaranya sound system, alat penghitung waktu atau timer, hingga papan informasi agar perlombaan dapat berlangsung lebih tertib dan menarik.
Terkait hadiah bagi para pemenang, Juned memastikan pemerintah daerah akan memenuhi hak peserta sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia menjelaskan anggaran kegiatan berkaitan dengan anggaran perubahan yang masih dalam proses. Karena menggunakan anggaran pemerintah, penyaluran hadiah harus mengikuti mekanisme administrasi yang berlaku.
“Yang jelas, hadiah bagi para pemenang pasti kita penuhi. Penyalurannya tentu harus sesuai dengan ketentuan karena kita menggunakan anggaran pemerintah, sehingga ada mekanisme yang harus kita ikuti,” tegasnya.
Bukan Cuma Adu Cepat
Dalam perlombaan Mabettang, peserta tidak hanya dituntut menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Kerapian dan ketepatan dalam mengikat rumput laut juga menjadi bagian penilaian.
Dewan juri, Risqi, menjelaskan setiap peserta diberikan waktu maksimal 10 menit untuk menyelesaikan satu bentangan rumput laut dengan panjang rata-rata 15 depa.
“Kalau peserta bisa menyelesaikan sebelum 10 menit, tentu waktunya akan dihitung. Tetapi ada syaratnya, seluruh tali cincin harus terisi penuh dan saat pemeriksaan tidak ada yang terlepas atau jatuh,” jelas Risqi.
Dengan demikian, peserta yang paling cepat belum tentu menjadi pemenang. Kualitas hasil pekerjaan turut menentukan nilai akhir.
“Jadi yang dinilai adalah kecepatan, kerapian dan ketepatan pengikatannya,” tambahnya.
Juned berharap evaluasi pelaksanaan tahun kedua dapat menjadi pijakan untuk mengembangkan Lomba Mabettang pada tahun-tahun mendatang.
Ia ingin Mabettang tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan HUT Kabupaten Nunukan, tetapi juga menjadi event yang memperkenalkan aktivitas masyarakat pembudidaya rumput laut kepada masyarakat luas. “Ini harus kita kemas lebih bagus ke depan,” pungkasnya. (nvl/simpatik/red)


