TANJUNG SELOR, Kaltaraaktual.com- Kalimantan Utara memiliki kekayaan alam yang menjadi salah satu modal penting pembangunan daerah. Hutan, sungai, kawasan pesisir, mangrove hingga habitat berbagai jenis satwa menjadi bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat.
Namun, di tengah pembangunan dan aktivitas ekonomi yang terus berkembang, tekanan terhadap lingkungan juga semakin besar. Perubahan fungsi kawasan, deforestasi, pencemaran hingga ancaman terhadap keanekaragaman hayati menjadi tantangan yang harus diantisipasi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Utara, Hairul Anwar, mengatakan persoalan lingkungan tidak bisa lagi dilihat secara parsial.
Menurutnya, menjaga lingkungan bukan semata-mata berbicara mengenai mempertahankan pepohonan di kawasan hutan. Ada ekosistem yang lebih luas dan saling berkaitan.
“Menjaga lingkungan itu bukan hanya menjaga pohon. Di dalamnya ada air, tanah, satwa, masyarakat dan seluruh ekosistem yang saling berkaitan,” kata Hairul, Jumat, (14/08/26).
Hairul mengatakan pemerintah daerah berada pada posisi untuk memastikan pembangunan dan perlindungan lingkungan dapat berjalan beriringan.
Menurut dia, Kaltara tetap membutuhkan pembangunan dan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, aktivitas tersebut harus memperhatikan kemampuan lingkungan dalam menopang kegiatan manusia.
“Pembangunan tetap harus berjalan. Investasi juga kita butuhkan. Tetapi jangan sampai pembangunan hari ini justru menimbulkan persoalan lingkungan yang harus ditanggung generasi berikutnya,” ujarnya.
Prinsip daya dukung dan daya tampung lingkungan menjadi salah satu hal yang penting dalam menentukan arah pembangunan.
DLH, kata Hairul, memiliki peran dalam memastikan aspek lingkungan menjadi bagian dari proses pembangunan, bukan sekadar formalitas administratif.
Menurut Hairul, berkurangnya tutupan hutan tidak hanya berdampak terhadap pepohonan. Kerusakan kawasan hutan dapat berpengaruh terhadap tata air, tanah, habitat satwa hingga kehidupan masyarakat yang berada di sekitar kawasan tersebut.
“Kalau hutannya terganggu, dampaknya tidak berhenti di situ. Ada tata air, ada keanekaragaman hayati, ada satwa yang kehilangan habitat. Semuanya saling berhubungan,” jelasnya.
Ia menilai persoalan tersebut harus menjadi perhatian bersama, terlebih Kaltara memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang perlu dijaga.
Hairul menegaskan keberadaan satwa liar tidak bisa dipisahkan dari kondisi habitatnya.
Ketika habitat mengalami tekanan, satwa berpotensi keluar dari kawasan alaminya untuk mencari makanan atau tempat berlindung.
Menurutnya Hairul, upaya menjaga keanekaragaman hayati harus dimulai dari perlindungan ekosistem secara keseluruhan.
“Kalau habitatnya kita jaga, satwanya juga akan punya ruang untuk hidup. Jadi jangan hanya melihat satwanya, tetapi lihat juga habitatnya,” katanya.
Dalam menghadapi persoalan lingkungan, Hairul menyebut pemerintah tidak bisa bekerja sendirian.
Keterlibatan masyarakat, pelaku usaha, akademisi, komunitas lingkungan hingga berbagai pemangku kepentingan dinilai penting.
“Pemerintah punya keterbatasan. Karena itu kolaborasi sangat penting. Masyarakat punya peran, dunia usaha juga punya tanggung jawab,” ujarnya.
Menurut Hairul, kesadaran masyarakat menjadi salah satu kunci. Persoalan lingkungan tidak akan selesai jika hanya mengandalkan penindakan setelah terjadi kerusakan.
“Yang paling penting adalah bagaimana kesadaran itu tumbuh. Jangan menjaga lingkungan hanya karena takut ada pengawasan,” tambahnya.
Hairul berharap pembangunan Kaltara ke depan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, kualitas lingkungan juga harus menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan.
“Kita ingin Kaltara maju, tetapi lingkungan tetap terjaga. Karena lingkungan ini adalah modal kita untuk masa depan,” tuturnya.
Ia menilai kekayaan alam Kaltara merupakan aset yang tidak bisa dinilai hanya dari sisi ekonomi.
Hutan, sungai, pesisir, mangrove dan keanekaragaman hayati memiliki fungsi ekologis yang pada akhirnya juga memberikan manfaat langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat.
“Jangan sampai kita baru sadar pentingnya lingkungan setelah terjadi kerusakan. Karena kalau sudah rusak, memulihkannya tidak mudah dan membutuhkan waktu,” pungkas Hairul. (****)







