Pesantren Tahfiz di SP 4 Tanjung Buka Jadi Rumah Anak Yatim dari Berbagai Daerah

oleh -1011 Dilihat
oleh

TANJUNG SELOR, Kaltaraaktual.com-Di tengah suasana yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, sebuah pondok pesantren (Ponpes) Tahfiz Al-Qur’an tumbuh menjadi tempat baru bagi anak-anak yatim dan keluarga kurang mampu untuk menimba ilmu agama sekaligus menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Pondok Pesantren itu Berlokasi di kawasan SP 4 Tanjung Buka Kelurahan Tanjung Palas Hilir, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan. Dan baru beroperasi sekitar tiga bulan, kini menjadi harapan bagi anak-anak dari berbagai daerah yang ingin mendapatkan pendidikan agama.

Pimpinan pondok pesantren, Ustaz Marzuki mengungkapkan, para santri tak hanya dari wilayah sekitar, para santri juga datang dari luar Kalimantan Utara (Kaltara), Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan asal pulau Jawa.

“Perbedaan latar belakang dan daerah asal tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk belajar dan menjalani kehidupan bersama di lingkungan pesantren,” ungkap Marzuki.

Marzuki bilang lembaga pendidikan itu memang dibangun untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak, khususnya yatim dan kurang mampu agar tetap memperoleh pendidikan agama yang layak.

Baca Juga  Panen Raya Jagung Kuartal III di Tarakan, Sinergi Ketahanan Pangan Kalimantan Utara

Bahkan, pengelola pondok tidak jarang harus menanggung biaya perjalanan, termasuk tiket pesawat, bagi calon santri dari luar daerah yang memiliki keterbatasan ekonomi.

“Keterbatasan biaya tidak seharusnya menjadi penghalang bagi anak-anak yang memiliki keinginan kuat untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an,” ujar Marzuki.

“Kami pernah ditawarkan untuk membuka pesantren ini di kawasan kota. Namun, kita tolak,” sambung dia.

Dia menjelaskan, suasana lingkungan yang tenang dan jauh dari keramaian itulah menjadi salah satu pertimbangan pemilihan lokasi pesantren.

“Kondisi ini diharapkan membantu para santri menjaga konsentrasi, ketenangan serta fokus dalam menghafal Al-Qur’an,” jelasnya.

Ia menambahkan, kehidupan para santri pun dibentuk dengan kedisiplinan sejak dini hari. Aktivitas dimulai pukul 03.30 WITA dengan salat tahajud berjamaah, dilanjutkan istigasah, salat subuh dan membaca Surah Yasin hingga menyetorkan hafalan Al-Qur’an,

“Meski masih tergolong baru, pondok pesantren ini bukan berdiri tanpa fondasi, ini cabang dari pondok pesantren pusat yang berada di Bentiang, Salim Batu,” tuturnya.

Baca Juga  Rumah Singgah Bunda Rahmawati Jadi Tempat Berteduh Keluarga Pasien di Tarakan

Ustaz Marzuki juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada anggota DPR RI, Rahmawati Zainal yang memberikan bantuan untuk para santri.

“Kami sangat berterima kasih kepada ibu Rahmawati yang memberikan perhatian hingga bantuan kepada Santri,” ungkapnya.

Sementara itu, anggota DPR RI Rahmawati Zainal menambahkan, kehadiran Ponpes itu juga tidak terlepas dari peran para alumni. Sebanyak 53 lulusan pesantren  telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an turut memperkenalkan keberadaan pondok kepada keluarga dan masyarakat di daerah asal masing-masing.

“Cerita dan pengalaman para alumni menjadi salah satu jalan bagi masyarakat untuk mengenal pesantren ini. Dari sana, dukungan perlahan tumbuh bukan hanya dalam bentuk perhatian, tetapi juga keterlibatan langsung,” ujar Rahmawati.

Selain itu, warga sekitar bahkan secara sukarela bergotong royong membantu pembangunan sejumlah fasilitas pendukung termasuk pengerjaan akses jalan menuju kawasan pondok.

Baca Juga  Rahmawati Bawa Kabar Baik, Guru PPPK Paruh Waktu Kaltara Menuju Status Penuh Tanpa Tes

“Semangat kebersamaan itu menjadi modal penting bagi pengelola dalam mengembangkan pesantren yang berdiri di atas lahan sekitar satu hektare,” ucap Rahmawati.

Ke depan, pengelola telah menyiapkan sejumlah rencana pengembangan, di antaranya pembangunan rumah ustaz dan masjid di bagian depan kawasan pesantren.

“Meski rencana itu belum diajukan kepada pemerintah daerah, pengelola berharap perhatian dari berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat dan pejabat yang telah meninjau lokasi,” tutupnya.

Di tengah keterbatasan sarana dan usia operasional yang masih seumur jagung, pesantren di SP 4 ini perlahan membangun harapan. Bukan sekadar menjadi tempat anak-anak belajar agama, tetapi juga ruang bagi mereka untuk tumbuh, menghafal Al-Qur’an, dan menata masa depan.

Bagi anak-anak yang datang dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, kesempatan belajar di pesantren ini menjadi pintu untuk meraih cita-cita. Sementara bagi masyarakat sekitar, keberadaan pondok itu menjadi wujud kebersamaan dalam menghadirkan pendidikan agama bagi generasi penerus.(vct/red)

Bagikan

Tinggalkan Balasan