Antrean BBM Mengular di Kaltara, Ketum GAPENSI Sentil Pertamina

oleh -1006 Dilihat
oleh

 

TANJUNG SELOR, Kaltaraaktual.com- Ketua Umum Pusat Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (GAPENSI), Andi Rukman Nurdin Karumpa, mengkritik kondisi antrean bahan bakar minyak (BBM) yang masih terjadi di sejumlah daerah. Menurut dia, persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele karena berdampak langsung pada meningkatnya biaya distribusi dan kegiatan usaha.

Pernyataan itu disampaikan Andi usai acara pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) III GAPENSI Kalimantan Utara (Kaltara), Rabu (22/07/26).

Baca Juga  SPMB Mulai Diterapkan, Pemprov Kaltara Dorong Akses Pendidikan Lebih Merata

Ia mengaku sempat menyaksikan langsung antrean kendaraan di SPBU pada pagi hari sebelum menghadiri agenda tersebut. Momen itu kemudian diunggahnya ke media sosial sebagai bentuk perhatian terhadap persoalan distribusi BBM.

“Tadi pagi juga saya menyempatkan melihat antrean BBM. Saya masukkan dalam status WhatsApp saya,” kata Andi.

Menurutnya, unggahan tersebut mendapat perhatian dari berbagai pihak. Ia bahkan memperoleh informasi bahwa dokumentasi antrean itu telah diteruskan kepada Direktur Utama Pertamina dan mendapat respons.

Baca Juga  YESS Bicara Dana RT, Milenial-Gen Z, Harmonisasi Kepala Daerah hingga UMKM Tourism

“Alhamdulillah baru saya dapat info bahwa foto itu sudah diteruskan kepada Dirut Pertamina dan direspons dengan baik,” ujarnya.

Andi berharap respons tersebut segera diikuti langkah nyata untuk memperbaiki distribusi BBM sehingga masyarakat dan pelaku usaha tidak lagi dihadapkan pada antrean panjang.

“Mudah-mudahan besok, lusa, hari-hari ke depannya tidak ada lagi antrean seperti ini, karena akan menimbulkan biaya yang sangat tinggi,” katanya.

Baca Juga  Bupati Syarwani Hadiri Reuni Akbar SMEAN/SMKN Tanjung Selor

Ia menilai antrean BBM bukan hanya menyulitkan masyarakat, tetapi juga berdampak pada sektor konstruksi dan dunia usaha. Waktu operasional yang terbuang akibat mengantre, menurut dia, berpotensi meningkatkan biaya logistik, menghambat mobilitas alat berat maupun kendaraan operasional, serta memengaruhi efisiensi proyek.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari PT Pertamina. (**)

Bagikan

Tinggalkan Balasan