TANJUNG SELOR, Kaltaraaktual.com- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Utara menyebut kualitas udara di wilayah Kaltara, khususnya Tanjung Selor, masih berada dalam kategori baik hingga sedang. Kondisi tersebut dinilai masih aman bagi masyarakat untuk beraktivitas di luar ruangan.
Kepala DLH Kaltara, Hairul Anwar, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI) di sejumlah wilayah utama Kaltara berada pada kisaran 30-50. Angka tersebut masih tergolong aman dan belum menunjukkan adanya pencemaran udara yang signifikan.
“Secara umum kualitas udara di Kalimantan Utara masih baik hingga sedang. Kondisi ini menjadi modal yang harus dijaga bersama melalui pengawasan dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan,” kata Hairul, Jumat (26/06/26).
Menurutnya, pemantauan kualitas udara dilakukan secara berkala menggunakan Automatic Air Quality Monitoring System (AQMS) yang terpasang di beberapa titik strategis. Di Kabupaten Bulungan, alat pemantau berada di kawasan Pasar Induk Tanjung Selor dan Rumah Jabatan Bupati Bulungan.
Berdasarkan data terbaru, kualitas udara di Tanjung Selor berada pada kategori sedang. Sementara itu, kondisi udara di Tarakan tercatat lebih baik dengan konsentrasi partikel yang masih rendah sehingga dinilai aman untuk aktivitas masyarakat.
Hairul menjelaskan kualitas udara dapat berubah dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari cuaca, aktivitas transportasi, kegiatan industri, hingga aktivitas di kawasan perkebunan dan pertambangan. Meski demikian, hingga kini belum ditemukan dampak yang berpengaruh besar terhadap kualitas udara di tingkat regional.
“Kami memantau kondisi udara secara real time sehingga jika terjadi peningkatan polusi dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti,” ujarnya.
Meski kondisi udara saat ini masih terjaga, DLH Kaltara mengingatkan masyarakat agar tetap mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rawan terjadi selama musim kemarau. Asap akibat karhutla dinilai menjadi ancaman terbesar yang dapat menyebabkan kualitas udara menurun secara drastis.
“Memasuki musim kemarau, potensi karhutla harus menjadi perhatian bersama. Karena itu kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat langkah pencegahan sejak dini,” jelas Hairul.
DLH juga mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta ikut menjaga lingkungan agar kualitas udara tetap terjaga.
“Udara bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Menjaga kualitas udara bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya. (ik/red)







